Tafsir Ibnu Katsir: Tafsir Abadi yang Menjadi Rujukan Dunia Islam
Damaskus pada abad ke-14 menjadi saksi lahirnya sebuah karya monumental yang hingga kini terus dipelajari, dibahas, dan diajarkan di berbagai belahan dunia Islam. Karya itu adalah Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, yang lebih dikenal dengan nama Tafsir Ibnu Katsir, hasil goresan pena ulama besar Ismâ‘îl bin ‘Umar bin Katsîr ad-Dimasyqî (701–774 H / 1301–1373 M).
Nama Ibnu Katsir bukan sekadar dikenal sebagai mufassir, melainkan juga ahli hadis dan sejarawan ulung. Hal ini membuat tafsirnya memiliki karakter yang kuat: berpijak pada riwayat yang sahih, tetapi tetap terhubung erat dengan tradisi sejarah dan pemikiran Islam pada zamannya.
Metode yang Membuatnya Istimewa
Dalam dunia tafsir, metode Ibnu Katsir dikenal sebagai tafsir bil-ma’tsûr—sebuah pendekatan yang menafsirkan Al-Qur’an melalui Al-Qur’an itu sendiri, hadis Nabi Muhammad ﷺ, dan penjelasan para sahabat serta tabi’in.
Ciri khasnya terlihat dari ketelitian luar biasa dalam memilah riwayat. Ibnu Katsir, yang juga murid dari ulama besar Ibnu Taimiyah, tidak serta-merta menerima semua keterangan. Ia mengkritisi sanad hadis, menolak riwayat palsu, bahkan menyebut secara jelas jika suatu penafsiran bersumber dari kisah Isra’iliyat.
Hal ini menjadikan Tafsir Ibnu Katsir bukan hanya kitab tafsir, tetapi juga sekaligus ensiklopedia kecil hadis yang menyajikan rujukan otoritatif bagi umat Islam.
Bahasa yang Hidup dan Mudah Diterima
Dibandingkan dengan karya tafsir klasik lain yang kerap sarat dengan perdebatan filosofis atau uraian bahasa yang rumit, Ibnu Katsir memilih jalan yang lebih sederhana. Penjelasannya padat, jelas, dan sistematis. Ia menyajikan makna ayat demi ayat secara runtut, sehingga bisa dipahami tidak hanya oleh kalangan ulama, tetapi juga masyarakat umum yang tekun belajar.
Tidak heran jika tafsir ini menjadi favorit di kalangan pesantren, majelis taklim, hingga perguruan tinggi Islam di Indonesia. Hampir setiap kajian tafsir klasik selalu menempatkan karya ini sebagai rujukan utama.
Jumlah Jilid: Bervariasi Sesuai Penerbit
Meski karya asli Ibnu Katsir mencakup tafsir lengkap atas 30 juz Al-Qur’an dalam satu kesatuan naskah, cetakan modern kemudian membaginya ke dalam berbagai jilid.
- Dalam edisi Arab standar, karya ini umumnya diterbitkan dalam 4 jilid tebal.
- Beberapa penerbit besar membaginya lagi menjadi 8 jilid, agar lebih mudah dipelajari.
- Di Indonesia, terjemahan populer yang dikeluarkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’i hadir dalam 10 jilid lengkap. Bahkan ada penerbit lain yang menerbitkannya hingga 20 jilid untuk memudahkan distribusi dan pembacaan.
Namun, perlu digarisbawahi: berapa pun jumlah jilidnya, isinya tetap sama—yakni menafsirkan seluruh ayat Al-Qur’an dari awal hingga akhir.
Warisan yang Terus Hidup
Hari ini, lebih dari 600 tahun setelah wafatnya Ibnu Katsir, tafsirnya tetap hidup dan menjadi pijakan penting dalam studi Al-Qur’an. Di masjid-masjid, pesantren, hingga perguruan tinggi Islam, tafsir ini terus dibaca. Bahkan, di era digital, Tafsir Ibnu Katsir bisa diakses secara daring dalam bentuk aplikasi, e-book, hingga platform kajian online.
Seperti sebuah berita yang tak pernah basi, Tafsir Ibnu Katsir selalu menemukan relevansinya di setiap zaman. Ketika umat mencari tafsir yang lurus, berbasis riwayat sahih, dan bebas dari tafsiran liar, kitab ini selalu hadir sebagai jawaban.