Lompat ke konten

Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid X

Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid X: Keteguhan Iman, Kemenangan Kebenaran, dan Peringatan Kehancuran

Kairo – Jilid X dari Fî Ẓilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb kembali hadir sebagai tafsir yang sarat makna perjuangan dan pesan keteguhan iman. Pada jilid ini, Quthb mengupas ayat-ayat mulai dari Surat al-Ahqâf hingga Surat adh-Dhâriyât, menghadirkan gambaran tentang tantangan dakwah para rasul, sikap kaum kafir yang menolak kebenaran, serta kepastian kemenangan bagi mereka yang berpegang teguh pada ajaran Allah.

Dalam Surat al-Ahqâf, Quthb menyoroti kisah kaum ‘Âd yang dibinasakan karena kesombongan dan penolakan terhadap dakwah Nabi Hûd. Ia menekankan bahwa kehancuran itu adalah akibat dari pengingkaran terhadap tauhid dan kezaliman sosial. Quthb menulis dengan nada tegas, mengingatkan umat Islam masa kini agar tidak jatuh pada kesalahan serupa: membanggakan kekuatan material sambil melupakan kekuatan iman.

Surat Muhammad dan al-Fath menempati posisi penting dalam jilid ini. Dalam tafsir Surat Muhammad, Quthb menggambarkan pertempuran ideologis antara iman dan kekufuran. Ia menegaskan bahwa jihad bukan sekadar pertempuran fisik, tetapi juga perjuangan membela kebenaran dari segala bentuk penindasan. Sementara Surat al-Fath dipaparkan sebagai kabar gembira tentang kemenangan umat Islam, terutama dengan turunnya ayat yang menyinggung Perjanjian Hudaibiyah. Quthb menekankan bahwa kemenangan sejati bukan sekadar hasil peperangan, tetapi juga keteguhan hati dalam menjalani ujian.

Dalam Surat al-Hujurât, Quthb menguraikan ajaran sosial yang luhur. Ia menegaskan pentingnya adab terhadap Rasulullah, larangan mencela sesama Muslim, serta keharusan menjauhi prasangka buruk dan ghibah. Baginya, ayat-ayat ini adalah pondasi masyarakat Islam yang kokoh, di mana persaudaraan dibangun di atas takwa, bukan suku, ras, atau status sosial. Pesan moral ini ia kaitkan dengan kondisi modern, ketika umat Islam tercerai-berai oleh fanatisme buta dan kepentingan politik.

Surat Qâf hadir dengan nuansa eskatologis yang kuat. Quthb menggambarkan kedahsyatan hari kiamat dengan bahasa yang menggugah rasa takut sekaligus harapan. Setiap manusia, menurutnya, akan berhadapan langsung dengan catatan amalnya, tanpa bisa mengelak sedikit pun. Tafsir bagian ini ditulis dengan gaya retoris yang tajam, penuh visualisasi, hingga membuat pembaca seolah sedang menyaksikan peristiwa kiamat di depan mata.

Sedangkan Surat adh-Dhâriyât menutup jilid ini dengan penekanan pada tujuan penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada Allah. Quthb menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah ladang ujian, dan segala kesibukan manusia tidak boleh melalaikan dari tugas utama: mengabdi kepada Sang Pencipta. Ia menekankan bahwa keberhasilan hidup tidak diukur dari harta atau jabatan, melainkan dari sejauh mana manusia memenuhi panggilan ibadah.

Jilid X ini menghadirkan Quthb dalam dua wajah yang khas: sebagai pengkritik sosial-politik yang lantang, sekaligus da‘i spiritual yang menyejukkan hati. Di satu sisi, ia mengecam sistem tirani, materialisme, dan perpecahan umat. Di sisi lain, ia mengajak pembaca untuk menemukan ketenangan dalam naungan al-Qur’an, agar hati tidak goyah menghadapi gelombang zaman.

Pesan utama yang terus bergema dalam jilid ini adalah kepastian janji Allah: bahwa kebenaran pasti menang, kebatilan pasti runtuh, dan iman adalah benteng terakhir manusia. Dengan bahasa yang retoris, emosional, dan penuh penghayatan, Quthb menutup jilid ini dengan seruan agar umat Islam kembali pada identitasnya yang sejati, hidup dalam ketaatan, dan bersiap menghadapi perjumpaan dengan Tuhannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *