Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid VIII: Menyibak Tabir Kehidupan, Kematian, dan Pertarungan Ideologi
Kairo – Jilid VIII dari Fî Ẓilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb menjadi salah satu bagian yang paling menggugah, karena di dalamnya pembaca diajak untuk menyelami ayat-ayat mulai dari Surat ash-Shaffât hingga Surat Fushshilat. Quthb menghadirkan tafsir dengan gaya retorika yang mengguncang hati, menekankan persoalan keimanan, akhirat, serta benturan ideologi antara Islam dengan sistem-sistem hidup yang lahir dari pemikiran manusia.
Dalam menafsirkan Surat ash-Shaffât, Quthb menggarisbawahi kekuatan tauhid sebagai pondasi kehidupan. Ia mengisahkan bagaimana para nabi menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, bahkan dalam ujian terberat seperti kisah Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putranya. Bagi Quthb, ayat-ayat ini adalah simbol bahwa iman sejati menuntut pengorbanan total, dan hanya dengan ketundukan seperti itu umat Islam akan mampu menegakkan peradaban yang kokoh.
Surat Shâd ditafsirkan dengan penekanan pada pertarungan abadi antara kebenaran dan kebatilan. Quthb menampilkan sosok Nabi Dawud dan Sulaimân sebagai pemimpin yang adil, tetapi juga mengingatkan bahaya kesombongan yang dapat menjerumuskan. Ia menyoroti kisah Iblis yang menolak sujud kepada Adam, sebagai cerminan kesombongan ideologi manusia modern yang merasa mampu hidup tanpa Tuhan. Dalam narasi Quthb, penolakan Iblis ini seolah hadir kembali dalam wajah peradaban sekuler yang menafikan peran wahyu.
Surat az-Zumar dipaparkan dengan nuansa spiritual yang dalam. Quthb menggambarkan ayat-ayatnya sebagai pintu gerbang menuju kesadaran akhirat. Ia menekankan betapa pentingnya keikhlasan dalam beribadah, bahwa semua amal akan sia-sia bila tidak ditujukan hanya untuk Allah. Tafsir ini ditulis dengan gaya yang menyentuh, seolah Quthb mengajak pembaca untuk merenungkan perjalanan hidup dari dunia menuju kematian, lalu bangkit di hadapan Allah pada hari kiamat.
Surat Ghâfir, Fussilat, dan beberapa surat berikutnya dipenuhi dengan pesan perlawanan ideologis. Quthb melihat kisah Nabi Musa yang melawan Fir‘aun sebagai cermin perjuangan umat Islam menghadapi kekuatan politik modern yang menindas. Ia mengkritik keras sistem kapitalisme, komunisme, dan nasionalisme yang menurutnya tidak memberi solusi bagi manusia, karena semua berakar pada nafsu dan kepentingan sempit. Sementara itu, Islam hadir sebagai jalan hidup yang menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Yang menjadikan Jilid VIII begitu istimewa adalah gaya bahasa Quthb yang bukan sekadar penjelasan akademis, melainkan seruan perlawanan sekaligus penghiburan bagi jiwa. Ia berbicara tentang keindahan iman, ketenangan di bawah naungan al-Qur’an, tetapi juga membakar semangat umat agar tidak tunduk pada sistem zalim. Dengan penuh keyakinan, Quthb menegaskan bahwa pertarungan ideologi antara Islam dan dunia sekuler bukanlah sekadar persaingan politik, melainkan pertempuran hakiki antara kebenaran dan kebatilan.
Melalui jilid ini, Quthb ingin mengingatkan bahwa al-Qur’an bukan hanya kitab bacaan, melainkan peta kehidupan yang menyingkap makna lahir dan batin dari perjalanan manusia. Ia menutup jilid ini dengan keyakinan bahwa kemenangan hakiki hanya akan datang pada mereka yang berpegang teguh pada tauhid, sabar menghadapi ujian, dan tidak goyah oleh gemerlap dunia.