Lompat ke konten

Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid VI

Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid VI: Pertarungan Ideologi, Seruan Hijrah, dan Dakwah yang Tegak di Tengah Badai

Kairo – Dalam Jilid VI, Fî Ẓilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb semakin menegaskan dirinya sebagai tafsir yang hidup, membakar semangat, dan berakar pada kenyataan umat. Pada bagian ini, Quthb menafsirkan lanjutan Surat al-Anbiyâ, Surat al-Hajj, al-Mu’minûn, an-Nûr, dan al-Furqân, dengan gaya yang penuh gairah perjuangan, seruan kebangkitan, sekaligus ketenangan spiritual.

Jilid ini sangat khas, karena lahir di tengah tekanan rezim Mesir yang mengekang kebebasan dakwah. Maka, tafsir Quthb tampil sebagai manifesto ideologi Islam, yang tidak hanya berbicara soal iman, tetapi juga soal perlawanan terhadap sistem yang menindas umat.


Sorotan Utama dalam Jilid VI

  1. Surat al-Anbiyâ: Para Nabi sebagai Pilar Sejarah Perlawanan
    Quthb menafsirkan kisah para nabi dari Ibrâhîm hingga Dâwud dan Sulaimân sebagai bukti bahwa sejarah manusia adalah sejarah perjuangan tauhid. Para nabi digambarkan sebagai pembawa risalah yang melawan arus besar masyarakatnya, bukan sekadar tokoh spiritual. Pesannya jelas: dakwah selalu berhadapan dengan perlawanan keras, tetapi akhirnya kebenaran pasti menang.
  2. Surat al-Hajj: Makna Hijrah dan Jihad
    Tafsir Quthb atas Surat al-Hajj sarat dengan seruan hijrah sebagai simbol perubahan total menuju tatanan yang lebih Islami. Ia menafsirkan ayat-ayat jihad bukan hanya sebagai peperangan fisik, tetapi sebagai perjuangan menyeluruh untuk membebaskan manusia dari kekuasaan selain Allah. Quthb menegaskan, ibadah haji bukan ritual kosong, melainkan pernyataan politik dan spiritual bahwa umat Islam memiliki pusat persatuan (Ka‘bah) yang membebaskan dari dominasi sistem asing.
  3. Surat al-Mu’minûn: Karakter Umat yang Unggul
    Dalam menafsirkan ayat-ayat awal Surat al-Mu’minûn, Quthb menggariskan ciri-ciri orang beriman: khusyuk dalam shalat, menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia, menjaga amanah, menunaikan zakat, hingga menjaga kesucian diri. Ia menekankan bahwa Islam membangun manusia seutuhnya, bukan sekadar individu saleh, tetapi juga warga masyarakat yang bertanggung jawab. Quthb menyindir keras masyarakat modern yang kehilangan arah moral, menggambarkannya sebagai umat yang “tenggelam dalam syahwat dan materi, tanpa pegangan nilai.”
  4. Surat an-Nûr: Masyarakat yang Bersih dan Bermartabat
    Quthb memberikan perhatian besar pada Surat an-Nûr, terutama ayat-ayat tentang adab, pergaulan, dan hukum hudûd. Baginya, surat ini adalah konstitusi moral bagi masyarakat Islam. Ia menjelaskan bagaimana aturan tentang menjaga pandangan, menutup aurat, serta larangan menuduh zina tanpa bukti, semuanya bertujuan untuk melindungi martabat manusia dan membersihkan masyarakat dari fitnah. Quthb menulis dengan tegas: “Masyarakat yang tidak berpegang pada prinsip an-Nûr, akan hancur oleh syahwat dan fitnahnya sendiri.”
  5. Surat al-Furqân: Al-Qur’an sebagai Pembeda Zaman
    Surat ini menurut Quthb adalah deklarasi bahwa al-Qur’an adalah furqân, pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Ia menafsirkan ayat-ayat ini sebagai seruan agar umat Islam berani menegakkan identitasnya di tengah gelombang sekularisme. Karakter “hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih” di akhir surat digambarkan Quthb sebagai potret Muslim sejati: rendah hati, sabar, menjauhi kesia-siaan, dan selalu berdoa agar keluarga mereka menjadi penyejuk mata.

Nada dan Pesan Besar Jilid VI

Jilid ini adalah tafsir tentang umat yang sedang berjuang. Sayyid Quthb menekankan tiga pesan besar:

  • Bahwa para nabi adalah teladan perjuangan ideologi yang selalu relevan sepanjang zaman.
  • Bahwa hijrah dan jihad adalah dua langkah abadi yang menegakkan Islam, bukan hanya ritual, tetapi transformasi sosial-politik.
  • Bahwa masyarakat Islam yang bersih adalah tujuan dakwah, tempat syahwat dibatasi, amanah ditegakkan, dan fitnah dicegah.

Dengan gaya khasnya yang retoris dan penuh emosi, Quthb menjadikan Jilid VI bukan sekadar tafsir, tetapi seruan kebangkitan. Ia menulis dari balik jeruji, namun suaranya menembus batas, menggema sebagai panggilan agar umat Islam kembali ke naungan al-Qur’an sebagai dasar kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *