Lompat ke konten

Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid IV

Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid IV: Dinamika Dakwah, Keteguhan Iman, dan Pertarungan Ideologi

Kairo – Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb memasuki Jilid IV, yang membahas penafsiran mulai dari lanjutan Surat Yûnus hingga akhir Surat al-Kahfi. Bagian ini menghadirkan al-Qur’an sebagai kitab perjuangan yang menguatkan umat Islam ketika berhadapan dengan gempuran ideologi, fitnah zaman, serta gelombang kezaliman yang terus berulang dalam sejarah manusia.

Quthb menulis tafsir bagian ini ketika pergulatan politik Mesir sedang memanas. Oleh sebab itu, tafsirnya bukan sekadar uraian teks, melainkan juga cerminan pengalaman pribadi, jeritan nurani, sekaligus panggilan perlawanan. Al-Qur’an, dalam pandangannya, adalah pedoman nyata bagi setiap mukmin yang ingin tetap teguh di jalan Allah meski harus berhadapan dengan tekanan besar dari kekuatan zalim.

Sorotan Utama dalam Jilid IV

  1. Pesan Kesabaran dalam Surat Yûnus dan Hûd
    Quthb menekankan bahwa sabar bukanlah sikap pasif, melainkan kekuatan aktif yang lahir dari keyakinan pada janji Allah. Nabi Nuh, Hûd, dan Shâlih digambarkan sebagai teladan pejuang dakwah yang teguh di tengah ejekan dan penolakan kaumnya. Menurut Quthb, inilah potret abadi seorang dai: konsisten, yakin, dan tak pernah menyerah.
  2. Pertarungan Ideologi dalam Surat Yûsuf
    Kisah Nabi Yûsuf dipandang Quthb bukan sekadar cerita indah tentang kesabaran dan cinta, melainkan drama peradaban. Penolakannya terhadap godaan istri al-‘Azîz, keberaniannya di penjara, hingga kepemimpinannya di Mesir digambarkan sebagai peta jalan bagi umat Islam: menjaga integritas moral, menolak tunduk pada kebatilan, dan akhirnya memimpin dengan visi tauhid.
  3. Konsep Sunnatullah dalam Surat al-Ra‘d dan Ibrâhîm
    Quthb menegaskan bahwa sejarah umat manusia selalu berjalan sesuai sunnatullah: siapa yang beriman, berjuang, dan teguh, dialah yang akan menang. Sebaliknya, siapa yang menolak kebenaran, niscaya akan binasa meski tampak berkuasa. Narasi ini terasa sangat relevan bagi kaum Muslim yang hidup di bawah bayang-bayang kolonialisme dan rezim diktator.
  4. Pelajaran Kehidupan dari Surat al-Kahfi
    Kisah Ashhâb al-Kahfi, Nabi Mûsâ dan Khidr, serta Dzulqarnain ditafsirkan Quthb sebagai peta spiritual dan sosial. Ia melihat Ashhâb al-Kahfi sebagai simbol pemuda beriman yang berani melawan sistem kufur; kisah Mûsâ–Khidr sebagai pelajaran bahwa ilmu Allah melampaui logika manusia; dan kisah Dzulqarnain sebagai contoh kepemimpinan adil yang menolak tirani.

Nada Khas Tafsir Jilid IV

Dalam jilid ini, retorika Quthb semakin mengeras. Ia berbicara tentang benturan abadi antara iman dan kekufuran, antara masyarakat tauhid dan masyarakat jahiliyah. Namun di balik seruan perlawanan itu, ia juga menghadirkan kelembutan spiritual—khususnya ketika menafsirkan ayat-ayat doa, harapan, dan penguatan iman.

Bagi Quthb, al-Qur’an adalah buku revolusi yang membebaskan manusia dari perbudakan sesama manusia, sekaligus kitab hidayah yang menenangkan hati orang beriman. Itulah sebabnya, Jilid IV terasa hidup: menggetarkan pikiran sekaligus menyejukkan jiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *