Lompat ke konten

Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid III

Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid 3: Cahaya Kisah Nabi dan Tegaknya Risalah

Kairo – Jilid ketiga Fî Ẓilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb membawa pembaca menyelami kisah-kisah para nabi dalam Surat al-A‘râf hingga pertengahan Surat Yûnus. Pada jilid ini, al-Qur’an tampil sebagai cermin sejarah peradaban, mengingatkan umat akan siklus keimanan, pembangkangan, serta sunnatullah dalam kemenangan kebenaran atas kebatilan.

Quthb menuturkan ayat-ayat ini dengan gaya penuh retorika, seolah ia sedang berdiri di mimbar, menyeru umat Islam agar mengambil pelajaran dari jejak para nabi. Kisah Nabi Nuh, Hûd, Shâlih, Lûth, Syu‘aib, hingga Musa, dihadirkan bukan sebagai dongeng, tetapi sebagai skenario kehidupan nyata yang selalu berulang di setiap zaman.

Beberapa sorotan penting dalam jilid ini:

  • Kisah para nabi sebagai teladan perlawanan terhadap rezim zalim dan masyarakat yang rusak moralnya.
  • Keteguhan dakwah Nabi Musa menghadapi Fir‘aun, yang oleh Quthb digambarkan mirip dengan tirani modern yang menindas rakyatnya.
  • Janji Allah tentang kemenangan iman, yang menjadi penegasan bahwa perjuangan kebenaran pasti berbuah, meski harus melewati jalan panjang dan penuh penderitaan.
  • Refleksi tauhid dalam Surat Yûnus, menekankan bahwa hanya Allah satu-satunya tempat bergantung ketika manusia menghadapi badai kehidupan.

Dalam narasi Quthb, kisah para nabi ini seakan hidup kembali, menyapa para pembaca Muslim abad ke-20 yang tengah berhadapan dengan kolonialisme, materialisme, dan kezaliman politik. Ia menggambarkan al-Qur’an sebagai kitab perlawanan sekaligus sumber ketenangan jiwa.

Jilid 3 ini akhirnya menegaskan dua wajah al-Qur’an yang terus diulang Quthb: pedang yang memotong kebatilan dan naungan yang menenangkan hati orang beriman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *