Lompat ke konten

Tafsir Al-Qurthuby Jilid VI

Jilid Keenam Tafsir al-Qurthubî: Tafsir Surah Âli ‘Imrân, Dari Polemik Ahli Kitab hingga Landasan Ukhuwah Islamiyah

Kairo — Setelah pada jilid kelima menyoroti hukum puasa, perubahan qiblat, hingga larangan riba, kini Tafsir al-Qurthubî Jilid 6 memasuki penafsiran Surah Âli ‘Imrân. Surah yang berisi 200 ayat ini sarat dengan perdebatan teologis bersama Ahli Kitab, pembahasan tauhid, hingga prinsip persatuan umat Islam. Imam al-Qurthubî menguraikannya dengan gaya khas: padat, lugas, penuh kutipan ulama, serta kuat dalam aspek hukum fikih.


🔹 Keutamaan Surah Âli ‘Imrân

Di awal jilid, al-Qurthubî menegaskan keutamaan surah ini. Ia menyebut hadis Nabi ﷺ yang menganjurkan membaca Surah al-Baqarah dan Âli ‘Imrân sebagai “dua cahaya” (az-Zahrawain) yang akan menjadi penolong di Hari Kiamat.

Menurutnya, surah ini meneguhkan keimanan umat Islam, mengokohkan aqidah, sekaligus menjadi benteng menghadapi tipu daya Ahli Kitab.


🔹 Dialog dengan Ahli Kitab

Salah satu sorotan penting dalam jilid keenam adalah ayat-ayat yang berbicara tentang perdebatan dengan kaum Nasrani Najran terkait ketuhanan Isa ‘alaihissalâm. Imam al-Qurthubî mengulas ayat “Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam” (QS. Âli ‘Imrân: 59), yang menegaskan bahwa Nabi Isa hanyalah makhluk Allah, bukan Tuhan.

Ia menjabarkan metode Al-Qur’an dalam berdialog: logis, argumentatif, dan santun. Menurut al-Qurthubî, ayat-ayat ini menunjukkan Islam tidak anti-dialog, melainkan mengedepankan hujjah rasional.


🔹 Ayat-ayat Muhkamat dan Mutasyabihat

Salah satu pembahasan paling mendalam dalam jilid ini adalah tafsir ayat ke-7:
“Di antara ayat-ayat Al-Qur’an ada yang muhkam (jelas) dan ada yang mutasyabih (samar).”

Al-Qurthubî menjelaskan perbedaan antara keduanya:

  • Muhkam → ayat yang jelas maknanya, menjadi dasar hukum.
  • Mutasyabih → ayat yang maknanya membutuhkan penafsiran lebih lanjut.

Ia mengutip perbedaan ulama apakah mutasyabihat hanya Allah yang tahu maknanya, atau manusia juga bisa memahaminya dengan ijtihad. Tafsir ini memperlihatkan keluasan wawasannya dalam ilmu ushul fikih.


🔹 Umat Islam Sebagai Umat Pilihan

Ayat penting lain yang mendapat perhatian besar adalah firman Allah:
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Âli ‘Imrân: 110).

Imam al-Qurthubî menekankan bahwa keutamaan umat Islam tidak otomatis, tetapi bergantung pada sejauh mana mereka menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Ia menegaskan, jika umat Islam meninggalkan tugas ini, maka mereka kehilangan kemuliaan yang dijanjikan.


🔹 Kisah Perang Uhud: Pelajaran dari Kekalahan

Bagian akhir surah ini banyak membahas Perang Uhud, sebuah ujian besar setelah kemenangan di Perang Badar. Al-Qurthubî menafsirkan ayat-ayat yang menyinggung kelemahan sebagian sahabat yang tidak disiplin menjaga posisi.

Ia menggarisbawahi pesan moral: kekalahan bukan karena kelemahan Islam, tetapi akibat pelanggaran terhadap perintah Nabi ﷺ. Menurutnya, ayat-ayat ini menjadi pelajaran abadi bahwa kemenangan bergantung pada ketaatan kepada Allah dan Rasul.


🔹 Pentingnya Persatuan dan Sabar

Al-Qurthubî juga menekankan ayat “Berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai” (QS. Âli ‘Imrân: 103). Ia menafsirkan bahwa persatuan umat adalah syarat utama kejayaan Islam, sedangkan perpecahan hanya akan melemahkan posisi umat di hadapan musuh.

Ia menambahkan pentingnya sifat sabar, baik dalam menghadapi musibah maupun dalam perjuangan membela agama.


🔹 Metode Tafsir: Bahasa, Fikih, dan Sejarah

Dalam jilid keenam ini, al-Qurthubî banyak menggunakan pendekatan sejarah, terutama ketika menafsirkan ayat-ayat terkait Perang Uhud. Namun, ia tetap tidak meninggalkan ciri khasnya:

  • Menjelaskan makna bahasa Arab klasik.
  • Membandingkan pendapat berbagai mazhab fikih.
  • Menguatkan tafsir dengan hadis-hadis Nabi ﷺ.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *