Tafsir al-Manâr Jilid 12: Pesan Keteguhan dan Peringatan dari Surat an-Nahl
Kairo – Jilid kedua belas Tafsir al-Manâr menghadirkan penafsiran atas Surat an-Nahl, yang sering dijuluki “Surat an-Ni‘am” (Surah Nikmat), karena banyak menyingkap tentang nikmat Allah yang melimpah kepada manusia. Dalam jilid ini, Abduh dan Rasyid Ridha menekankan bahwa ayat-ayat al-Qur’an bukan sekadar bacaan ritual, tetapi dokumen moral dan sosial yang harus menjadi panduan hidup umat.
Abduh memulai tafsirnya dengan menekankan tema tauhid sebagai asas nikmat. Menurutnya, segala bentuk nikmat – dari udara, air, ternak, hingga rezeki – adalah tanda kekuasaan Allah yang seharusnya menumbuhkan rasa syukur. Ia mengkritik keras perilaku manusia yang kerap lalai dan justru menyembah berhala atau terjebak dalam materialisme, padahal semua fasilitas hidup datang dari Tuhan yang Esa.
Ridha memperluas pembahasan dengan menghubungkan tafsir ini ke kondisi sosial-politik umat Islam. Ia menyoroti bahwa nikmat terbesar bagi umat adalah kemerdekaan, persatuan, dan bimbingan wahyu. Namun, banyak negeri Islam yang melupakan nikmat ini dan justru tunduk pada penjajah. Menurutnya, melupakan nikmat Allah berarti membuka jalan bagi kehancuran, sebagaimana umat-umat terdahulu yang ingkar lalu ditimpa azab.
Dalam menafsirkan ayat-ayat tentang dakwah dan perlawanan kaum kafir, Abduh menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam berdakwah. Ia mengutip QS. an-Nahl: 125: “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik.” Bagi Abduh, ayat ini adalah pedoman abadi bagi para da’i agar dakwah tidak dilakukan dengan kekerasan, tetapi dengan hujjah, kelembutan, dan keteladanan.
Ridha menambahkan bahwa metode ini sangat relevan dalam menghadapi tantangan modern. Ia mengkritik sebagian kelompok Islam yang fanatik dan kaku, hingga membuat orang menjauh dari dakwah. Sebaliknya, ia mendorong agar dakwah menjadi sarana pencerahan intelektual dan sosial, bukan sekadar seruan emosional.
Jilid ini juga membahas tema janji dan ancaman. Abduh menyoroti ayat yang menegaskan bahwa orang yang bersabar dan bertawakal kepada Allah akan mendapat perlindungan, sementara mereka yang ingkar akan menuai akibat dari kesombongan mereka. Ia menekankan bahwa sunnatullah berlaku secara konsisten: bangsa yang bersyukur akan bertahan, bangsa yang ingkar akan binasa.
Selain itu, tafsir al-Manâr menegaskan bahwa al-Qur’an adalah ruh peradaban. QS. an-Nahl: 89 – “Kami turunkan kepadamu al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” – ditafsirkan sebagai bukti bahwa al-Qur’an tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga etika, hukum, hingga tatanan sosial.
Secara keseluruhan, jilid kedua belas Tafsir al-Manâr menampilkan Surat an-Nahl sebagai peta spiritual dan sosial. Ia mengajarkan syukur atas nikmat Allah, kebijaksanaan dalam dakwah, serta pentingnya kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi ujian hidup.
Melalui tafsir ini, Abduh dan Ridha ingin menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh hanya menikmati nikmat dunia, tetapi harus menjadikannya sarana untuk memperkuat iman, menegakkan keadilan, dan membangun peradaban yang berlandaskan tauhid.