Lompat ke konten

Tafsir al-manar Jilid XI

Tafsir al-Manâr Jilid 11: Antara Iman dan Perlawanan dari Surat Ibrâhîm hingga al-Hijr

Kairo – Jilid kesebelas Tafsir al-Manâr hadir dengan penafsiran mendalam atas Surat Ibrâhîm dan Surat al-Hijr, dua surah yang sarat dengan pesan keimanan, perjuangan dakwah, serta konsekuensi bagi umat yang menolak kebenaran.

Dalam menafsirkan Surat Ibrâhîm, Abduh menggarisbawahi doa Nabi Ibrahim yang penuh makna, terutama permohonannya agar keturunannya tetap dalam tauhid dan agar Mekah dijadikan negeri yang aman. Menurut Abduh, doa ini adalah fondasi peradaban Islam, karena keamanan dan tauhid merupakan dua tiang utama yang menopang kehidupan masyarakat.

Rasyid Ridha melanjutkan tafsir ini dengan menekankan bahwa doa Ibrahim relevan bagi dunia Islam modern. Ia menyoroti betapa umat Islam membutuhkan persatuan, stabilitas politik, dan keteguhan akidah untuk bisa bangkit kembali dari keterpurukan akibat kolonialisme. Baginya, keamanan negeri dan kemurnian iman adalah syarat mutlak untuk membangun kekuatan umat.

Selain itu, ayat-ayat yang menggambarkan tentang para rasul dan umat mereka dipahami sebagai pola sejarah yang berulang: setiap rasul membawa risalah tauhid, ditolak oleh kaumnya yang sombong, lalu Allah menurunkan azab atau memberikan kemenangan kepada kaum beriman. Tafsir ini mengingatkan bahwa kebangkitan dan kejatuhan suatu bangsa bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari sunnatullah dalam sejarah.

Berlanjut ke Surat al-Hijr, tafsir al-Manâr menghadirkan dimensi peringatan yang keras. Surah ini banyak berbicara tentang kaum terdahulu seperti kaum Tsamud yang mendustakan Nabi Shalih, serta tentang iblis yang menolak bersujud kepada Adam.

Abduh menekankan aspek psikologis perlawanan terhadap kebenaran: kesombongan, hawa nafsu, dan rasa superioritas membuat manusia menolak ajaran Allah. Iblis dijadikan simbol abadi kesombongan intelektual dan spiritual yang menjerumuskan manusia.

Ridha kemudian menarik relevansinya pada kondisi umat Islam modern. Ia menyebut bahwa sikap menolak kebenaran bukan hanya terjadi di masa lalu, tetapi juga terlihat dalam umat Islam yang enggan menerima pembaruan pemikiran dan tetap terjebak dalam fanatisme buta serta stagnasi intelektual. Dengan nada reformis, ia menyerukan agar umat berani melepaskan diri dari belenggu tradisi yang membutakan akal.

Al-Hijr juga menegaskan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang terjaga. Ayat QS. al-Hijr: 9“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” – ditafsirkan sebagai jaminan ilahi atas keaslian wahyu. Abduh menyebutnya sebagai sumber kepercayaan diri umat Islam, bahwa kitab suci ini tetap otentik meski berabad-abad berlalu.

Secara keseluruhan, jilid kesebelas al-Manâr menghadirkan al-Qur’an sebagai cermin sejarah dan panduan perubahan sosial. Surat Ibrâhîm mengajarkan visi tauhid dan stabilitas sebagai fondasi peradaban, sedangkan al-Hijr memperingatkan bahaya kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran.

Melalui jilid ini, Abduh dan Ridha seakan ingin menyampaikan bahwa kebangkitan umat Islam hanya mungkin terwujud jika mereka meneladani doa Ibrahim, menjaga kemurnian iman, membangun keamanan negeri, dan tidak mengulangi kesalahan kaum terdahulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *