Lompat ke konten

Permulaan Wahyu

Derajat : Shahih
Kitab : Permulaan Wahyu ( 1 )
Bab : Bagaimana Permulaan Turunya Wahyu Kepada Rasulullah
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ. وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْه
“Telah menceritakan kepada kami al-Humaidi Abdullah bin az-Zubair, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id al-Anshari, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim at-Taimi, bahwa ia pernah mendengar Alqamah bin Waqash al-Laitsi berkata: “Aku pernah mendengar Umar bin al-Khaththab di atas mimbar berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Semua perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap balasan tergantung pada apa yang diniatkan. Barang siapa yang berhijrah karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya akan tertuju pada apa yang ia niatkan.”

Derajat : Shahih
Kitab : Permulaan Wahyu ( 2 )
Bab : Bagaimana Permulaan Turunya Wahyu Kepada Rasulullah
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا
“Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, dari Aisyah, Ummul Mukminin, ia menceritakan bahwa al-Harits bin Hisyam pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu itu turun kepada engkau?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Kadang wahyu datang kepadaku seperti suara gemerencing lonceng, dan cara inilah yang paling berat bagiku. Wahyu tersebut berhenti sehingga aku dapat memahami apa yang disampaikan. Kadang pula Malaikat datang dalam bentuk seorang laki-laki, lalu berbicara kepadaku, sehingga aku dapat memahami apa yang diucapkannya.” Aisyah menambahkan, “Aku pernah menyaksikan bagaimana wahyu turun kepada beliau ﷺ. Ketika wahyu itu berakhir, dahi beliau bercucuran keringat, padahal cuaca pada saat itu sangat dingin.”

Derajat : Shahih
Kitab : Permulaan Wahyu ( 3 )
Bab : Bagaimana Permulaan Turunya Wahyu Kepada Rasulullah
دَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ } فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيَّ قَالَ وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الْوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ } فَحَمِيَ الْوَحْيُ وَتَتَابَعَ تَابَعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ وَأَبُو صَالِحٍ وَتَابَعَهُ هِلَالُ بْنُ رَدَّادٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ وَقَالَ يُونُسُ وَمَعْمَرٌ بَوَادِرُه
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami dari al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah bin az-Zubair, dari Aisyah -Ibu kaum mukminin-, bahwasanya ia berkata: “Permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullah ﷺ adalah mimpi yang nyata dalam tidur. Dan tidaklah beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya Subuh. Kemudian beliau dianugerahi rasa cinta untuk menyendiri. Lantas beliau pun menyendiri gua Hira’ untuk bertahannuts di dalamnya, yaitu ibadah di malam hari selang beberapa waktu sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk bertahannuts kembali. Beberapa waktu setelahnya, beliau menemui Khadijah kembali untuk mempersiapkan bekal seperti sebelumnya. Sampai akhirnya datanglah suatu yang haq kepada beliau saat berada di gua Hira’, sesosok malaikat mendatanginya seraya berkata, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa baca.” Nabi ﷺ menjelaskan: Maka malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat hingga aku tak berdaya, kemudian melepaskanku dan kembali berkata, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa baca.” Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk kedua kalinya dengan sangat kuat higga aku tak berdaya, lalu melepaskanku dan kembali berkata, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa baca.” Kemudian Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat hingga aku tak berdaya, lalu melepaskanku seraya berkata, ‘(Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah).’ Kemudian Nabi ﷺ pulang menemui Khadijah binti Khuwailid dalam keadaan gelisah dan sangat ketakutan. Beliau berujar, ‘Selimuti aku, selimuti aku!’ Beliau pun diselimuti hingga hilang ketakutannya. Lalu beliau menceritakan peristiwa itu kepada Khadijah, ujar beliau, ‘Aku sangat mengkhawatirkan diriku.’ Maka Khadijah berkata: ‘Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturahmi, seorang yang jujur dalam tutur kata, menolong yang lemah, memberi orang yang tak punya, engkau juga memuliakan tamu dan membela kebenaran.’ Khadijah kemudian mengajak beliau untuk bertemu dengan Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, putra paman Khadijah, yang beragama Nasrani di masa Jahiliah, ia juga menulis buku dalam bahasa Ibrani, juga menulis Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani dengan izin Allah. Saat itu Waraqah sudah tua renta dan buta matanya. Khadijah berkata, ‘Wahai sepupuku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh ponakanmu ini.’ Waraqah berkata, ‘Wahai ponakanku, apa yang tengah engkau alami?’ Maka Rasulullah ﷺ menuturkan peristiwa yang dialaminya. Waraqah berkata, ‘Ini adalah Malaikat, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat engkau nanti diusir oleh kaummu.’ Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Apakah aku akan diusir oleh kaumku?’ Waraqah menjawab, ‘Iya. Karena tidak ada satupun orang yang datang dengan membawa seperti apa yang engkau bawa ini kecuali akan dimusuhi. Seandainya jika aku masih ada saat peristiwa itu nanti, pasti aku akan menolongmu sekuat tenaga.’ Tak lama kemudian, Waraqah meninggal dunia, sementara wahyu terputus selang beberapa waktu.” Ibnu Syihab berkata: Telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Jabir bin Abdillah al-Anshari bertutur mengenai masa kesenggangan (turunnya) wahyu, sebagaimana yang Rasulullah ﷺ ceritakan, “Ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari langit, lalu aku memandang ke arahnya dan ternyata ada Malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira’, ia sedang duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun ketakutan dan pulang seraya bergumam, “Selimuti aku. Selimuti aku.” Maka Allah Ta’ala menurunkan wahyu berbunyi, “(Wahai orang yang berselimut, bergegaslah dan berilah peringatan) sampai firman Allah (dan berhala-berhala itu, tinggalkanlah).” Sejak saat itu wahyu terus-menerus turun berkesinambungan.” Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Yusuf dan Abu Shalih. Dikuatkan juga oleh Hilal bin Raddad, dari az-Zuhri, sementara Yunus dan Ma’mar menyepakatinya.

Derajat : Shahih
Kitab : Permulaan Wahyu ( 4 )
Bab : Bagaimana Permulaan Turunya Wahyu Kepada Rasulullah
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ أَبِي عَائِشَةَ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى { لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ } قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَالِجُ مِنْ التَّنْزِيلِ شِدَّةً وَكَانَ مِمَّا يُحَرِّكُ شَفَتَيْهِ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَأَنَا أُحَرِّكُهُمَا لَكُمْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَرِّكُهُمَا وَقَالَ سَعِيدٌ أَنَا أُحَرِّكُهُمَا كَمَا رَأَيْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يُحَرِّكُهُمَا فَحَرَّكَ شَفَتَيْهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ } قَالَ جَمْعُهُ لَكَ فِي صَدْرِكَ وَتَقْرَأَهُ { فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ } قَالَ فَاسْتَمِعْ لَهُ وَأَنْصِتْ { ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ } ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا أَنْ تَقْرَأَهُ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ إِذَا أَتَاهُ جِبْرِيلُ اسْتَمَعَ فَإِذَا انْطَلَقَ جِبْرِيلُ قَرَأَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَرَأَه
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Abi Aisyah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman Allah ﷻ: “Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat menguasainya.” Ibnu ‘Abbas menjelaskan, “Ketika wahyu (Al-Qur’an) turun kepada Rasulullah ﷺ, beliau sering merasa kesulitan dan kewalahan. Beliau sering menggerakkan kedua bibirnya.” Ibnu ‘Abbas melanjutkan, “Aku akan menggerakkan kedua bibirku (untuk membacakannya) kepada kalian sebagaimana Rasulullah ﷺ melakukannya.” Sa’id berkata, “Dan aku akan menggerakkan kedua bibirku (untuk membacakannya) sebagaimana aku melihat Ibnu ‘Abbas melakukannya.” Saat Nabi ﷺ menggerakkan kedua bibirnya, turunlah firman Allah ﷻ: “Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan membuatmu pandai membacanya.” Maksudnya, Allah mengumpulkannya dalam dadamu (untuk dihafalkan) dan kemudian engkau akan dapat membacanya. “Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaan tersebut.” Maksudnya, dengarkan dan diamlah! Selanjutnya Allah ﷻ berfirman, “Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” Maksudnya, Kami yang akan menjelaskan (sehingga engkau dapat membacanya tanpa kesalahan). Sejak saat itu, ketika Jibril ‘alaihissalam datang kepada Rasulullah ﷺ, beliau hanya mendengarkan dengan seksama. Setelah Jibril ‘alaihissalam pergi, barulah beliau ﷺ membacanya sesuai dengan bacaan Jibril ‘alaihissalam.

Derajat : Shahih
Kitab : Permulaan Wahyu ( 4 )
Bab : Bagaimana Permulaan Turunya Wahyu Kepada Rasulullah
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ ح و حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ وَمَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ نَحْوَهُ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَة
Telah menceritakan kepada kami Abdan, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abdullah, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Yunus, dari az-Zuhri. -Dan diriwayatkan dari jalur lain- Telah menceritakan kepada kami Bisyir bin Muhammad, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abdullah, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Yunus dan Ma’mar, dari az-Zuhri dengan riwayat yang sama, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Abdillah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Bahwasanya Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, terutama pada bulan Ramadan ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam menemuinya. Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam kerapkali menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadan, di mana Jibril ‘alaihissalam mengkaji Al-Qur’an bersama beliau. Sungguh Rasulullah ﷺ jauh lebih bermurah hati daripada angin yang berembus.

Iman

Derajat : Shahih
Kitab : Iman ( 1 )
Bab : Ucapan Nabi ﷺ : ”Islam DiBangun di atas lima perkara”
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَان
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Musa, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abi Sufyan, dari ‘Ikrimah bin Khalid, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Islam dibangun di atas lima (landasan); Persaksian dengan menafikan adanya tuhan yang berhak disembah selain Allah ﷻ dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadan.”

Derajat : Shahih
Kitab : Iman ( 2 )
Bab : Tentang Perkara – Perkara Iman
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُعْفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَان
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad al-Ju’fi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir al-‘Aqadi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal, dari Abdullah bin Dinar, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, di antaranya malu adalah cabang dari keimanan.”

Derajat : Shahih
Kitab : Iman ( 3 )
Bab : Seorang Muslim Adalah Orang Yang Sanggup Menjamin Keselamatan Orang-Orang Muslim Lainya Dari Ganguan Lisan Dan Tangganya
حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ وَإِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَقَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا دَاوُدُ هُوَ ابْنُ أَبِي هِنْدٍ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ دَاوُدَ عَنْ عَامِرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abdullah bin Abi as-Safar dan Isma’il bin Abi Khalid, dari asy-Sya’bi, dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Hakikat seorang muslim adalah yang tidak mencelakai orang-orang muslim lainnya dengan lisan dan tangannya; dan hakikat orang yang berhijrah adalah yang mampu meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” Abu Abdillah berkata: Dan Abu Mu’awiyyah berkata: Telah menceritakan kepada kami Daud bin Abi Hind, dari ‘Amir, ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi ﷺ. Dan berkata Abdul A’laa, dari Daud, dari ‘Amir, dari Abdullah, dari Nabi ﷺ

Derajat : Shahih
Kitab : Iman ( 4 )
Bab : Amalan Islam Apakah Yang Paling Utama
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقُرَشِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو بُرْدَةَ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِه
Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Yahya bin Sa’id al-Qurasyi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami bapakku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Burdah bin Abdillah bin Abi Burdah, dari Abu Burdah, dari Abu Musa radhiallahu’anhu, ia berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah Islam yang paling utama?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Siapapun dari kaum muslimin yang selamat dari bahaya lisan dan tangannya.”

Ilmu

Derajat : Shahih
Kitab : Imu ( 1 )
Bab : Orang Yang Ditanya Tentang Suatu Ilmu,sedang ia tengah sibu berbicara,maka ia usaikan dahulu pembicaraanya,baru kemudian dia menjawab pertanyaan tersebut.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ قَالَ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ ح و حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُلَيْحٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ حَدَّثَنِي هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَة
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Fulaih. (Dan telah diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin al-Mundzir, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fulaih, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku bapakku, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Hilal bin Ali, dari Atha’ bin Yasar, dari Abu Hurairah, ia berkata: “Ketika Nabi ﷺ tengah berbicara kepada suatu kaum dalam sebuah majelis, tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui seraya bertanya, ‘Kapankah hari Kiamat tiba?’ Hanya saja Nabi ﷺ tetap melanjutkan pembicaraannya. Sementara itu, sebagian orang ada yang mengatakan, ‘Sebenarnya beliau mendengar perkataannya, namun beliau tidak menyukai apa yang dikatakannya itu.’ Sebagian lain mengatakan, ‘Bahwasanya beliau tidak mendengar perkataannya sama sekali.’ Hingga akhirnya ketika Nabi ﷺ telah menyelesaikan pembicaraannya, beliau bersabda, ‘Siapakah orang yang bertanya tentang hari Kiamat tadi?’ Yang bersangkutan pun berkata, ‘Aku, wahai Rasulullah!’ Lantas Nabi ﷺ bersabda, ‘Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah Kiamat tiba!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Bagaimana amanah itu disia-siakan?’ Nabi ﷺ menjawab, ‘Apabila suatu perkara (agama) diserahkan kepada seorang yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat tiba.’













Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *