Jilid I Tafsir al-Azhar dibuka dengan penafsiran Surat al-Fatihah hingga bagian awal Surat al-Baqarah. HAMKA menempatkan al-Fatihah sebagai pintu gerbang seluruh al-Qur’an. Ia menyebutnya sebagai “Ummul Kitab”, induk dari segala petunjuk, karena di dalamnya terdapat inti dari ajaran Islam: tauhid, ibadah, doa, dan tuntunan hidup manusia. Dengan gaya bahasa sederhana namun penuh ruh, ia menegaskan bahwa ayat “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” bukan hanya sekadar doa, tetapi juga janji umat untuk senantiasa mengabdi kepada Allah dan menggantungkan harapan hanya pada-Nya.
Beranjak ke Surat al-Baqarah, HAMKA menjelaskan hukum-hukum dasar yang menjadi fondasi peradaban Islam. Ia mengurai tentang shalat, zakat, puasa, dan haji, dengan menekankan dimensi sosial dari ibadah. Misalnya, zakat bukan semata kewajiban ritual, tetapi instrumen untuk membangun keadilan sosial. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi pendidikan spiritual untuk menumbuhkan empati dan pengendalian diri. Dalam penjelasan sejarah Bani Israil, HAMKA tidak berhenti pada kisah, tetapi mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak dalam kesombongan, sebagaimana yang terjadi pada umat terdahulu. Ia memberi peringatan keras: umat Islam hanya akan jaya jika tetap berpegang pada iman dan akhlak mulia.