Lompat ke konten

Tafsir Rûh al-Ma‘ânî

Rûh al-Ma‘ânî, Tafsir Ensiklopedis Karya Al-Âlûsî yang Jadi Warisan Abadi Dunia Islam

Dalam sejarah panjang tafsir Al-Qur’an, abad ke-19 Masehi melahirkan sebuah karya besar yang hingga kini masih dijadikan rujukan para ulama dan akademisi. Kitab itu adalah Rûh al-Ma‘ânî fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm wa as-Sab‘ al-Matsânî, sebuah tafsir monumental yang ditulis oleh Syihâbuddîn al-Sayyid Mahmûd al-Âlûsî al-Baghdâdî, seorang ulama besar asal Baghdad yang wafat pada tahun 1270 H atau 1854 M.

Kitab ini terdiri dari 30 jilid yang membentang luas, mencerminkan kedalaman dan keluasan ilmu penulisnya. Al-Âlûsî menulis dengan pendekatan ensiklopedis: setiap ayat ditafsirkan dengan memadukan tafsir bil-ma’tsûr (riwayat sahabat dan tabi‘in) dan tafsir bil-ra’yi (ijtihad akal). Ia tidak hanya mengutip pendapat mufassir klasik seperti al-Tabarî, al-Zamakhsyarî, Fakhruddîn al-Râzî, dan al-Baidhâwî, tetapi juga menyajikan kritik dan sintesis yang membuat karyanya kaya dan bernuansa ilmiah.

Keistimewaan Rûh al-Ma‘ânî terlihat dari keberanian penulisnya menggabungkan berbagai disiplin ilmu dalam penafsiran. Tafsir ini memuat penjelasan mendalam tentang fikih dengan membandingkan pendapat mazhab, mengurai sisi kebahasaan dan balaghah, menjelaskan aspek sejarah dan asbâb al-nuzûl, bahkan tidak jarang menyinggung pandangan filsafat dan tasawuf. Al-Âlûsî dikenal sebagai mufassir yang kritis; ia berusaha menimbang semua pendapat lalu mengambil sikap dengan argumentasi kuat.

Selain itu, Rûh al-Ma‘ânî juga menampilkan nuansa kontekstual. Sebagai ulama yang hidup di Baghdad pada masa kekuasaan Turki Utsmani, Al-Âlûsî menyelipkan pandangannya tentang kondisi sosial-politik umat Islam, menjadikan tafsirnya bukan hanya teks keagamaan, tetapi juga refleksi realitas zamannya.

Kitab ini kemudian menjadi salah satu tafsir terlengkap yang diakui dunia Islam. Para ulama menyebutnya sebagai “ensiklopedi tafsir” karena cakupan bahasanya yang luas. Meski panjang dan padat, Rûh al-Ma‘ânî tetap dibaca hingga kini, menjadi rujukan penting di berbagai lembaga pendidikan Islam, terutama di Timur Tengah.

Dari Baghdad, karya Al-Âlûsî itu menyebar ke seluruh dunia Islam, membuktikan bahwa tafsir Al-Qur’an adalah lautan ilmu tanpa batas. Dengan Rûh al-Ma‘ânî, Al-Âlûsî meninggalkan warisan abadi yang memadukan tradisi klasik dengan analisis kritis, menjadikannya salah satu kitab tafsir paling berharga dalam sejarah peradaban Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *