Lompat ke konten

Jilid II Tafsir al-Marāghī

Kairo – Jilid II Tafsir al-Marāghī melanjutkan penafsiran dari Surat al-Baqarah ayat-142 hingga akhir, serta Surat Āli ‘Imrān. Dalam jilid ini, Ahmad Musthafa al-Marāghī menghadirkan tafsir yang penuh dengan pesan moral, hukum, dan nilai spiritual yang mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat.

Pada bagian lanjutan Surat al-Baqarah, al-Marāghī menyoroti perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka‘bah di Makkah. Ia menjelaskan peristiwa ini bukan sekadar perubahan arah shalat, melainkan simbol penting kemandirian umat Islam, menegaskan bahwa umat Muhammad SAW memiliki identitas sendiri yang terpisah dari tradisi Bani Israil. Menurut al-Marāghī, peristiwa tersebut mengajarkan umat Islam tentang pentingnya persatuan, kebanggaan pada agamanya, dan sikap percaya diri menghadapi peradaban lain.

Selanjutnya, ia membahas panjang lebar hukum-hukum ibadah dan muamalah, seperti perintah berpuasa Ramadan, hukum qishash, kewajiban zakat, serta aturan perdagangan dan pinjam-meminjam. Yang menarik, al-Marāghī selalu menekankan dimensi etika di balik setiap hukum. Misalnya, ketika menafsirkan ayat tentang puasa, ia menyebut bahwa tujuan utama bukanlah menahan lapar semata, melainkan melatih jiwa agar memiliki ketakwaan dan kepedulian sosial. Demikian pula dalam hukum perdagangan, ia menegaskan pentingnya kejujuran dan keadilan sebagai fondasi ekonomi yang diridhai Allah.

Memasuki Surat Āli ‘Imrān, al-Marāghī membawa pembaca untuk merenungi tema besar tentang keteguhan iman. Ia menjelaskan bahwa surat ini meneguhkan akidah tauhid dan memberi peringatan kepada kaum Muslim agar tidak mengikuti jejak orang Yahudi dan Nasrani yang terjerumus dalam fanatisme buta. Ia menafsirkan ayat-ayat tentang dialog dengan Ahli Kitab dengan menekankan sikap moderat: Islam mengajarkan toleransi, namun tetap kokoh dalam prinsip akidah.

Kisah Perang Uhud yang diabadikan dalam surat ini juga mendapat perhatian besar dari al-Marāghī. Ia menjelaskan bahwa kekalahan kaum Muslimin bukanlah karena kelemahan strategi Rasulullah, melainkan akibat ketidaktaatan sebagian sahabat terhadap perintah beliau. Dari sini, al-Marāghī menekankan pesan moral penting: kemenangan dan kekuatan umat Islam bergantung pada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan pada jumlah atau kekuatan militer semata.

Jilid II Tafsir al-Marāghī dengan demikian menjadi sarana refleksi bagi umat Islam untuk memahami bahwa al-Qur’an tidak hanya berisi hukum-hukum, tetapi juga sarat dengan hikmah sosial dan spiritual. Dengan bahasanya yang mudah, tafsir ini membuat pembaca dapat menangkap bahwa setiap ayat mengandung arahan langsung untuk kehidupan modern: mulai dari pendidikan akhlak, penguatan ekonomi, hingga pembangunan masyarakat yang adil dan beradab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *