Lompat ke konten

Tafsir al-Marāghī

Kairo – Dunia Islam modern mengenal satu karya tafsir yang begitu populer, yakni Tafsir al-Marāghī, hasil pemikiran ulama besar Mesir, Ahmad Musthafa al-Marāghī (1883–1952 M). Karya ini terdiri dari tiga puluh juz dalam tiga puluh jilid kecil, ditulis dengan tujuan mempermudah umat Islam memahami pesan-pesan al-Qur’an secara praktis dan kontekstual. Tidak seperti tafsir klasik yang kerap memuat perdebatan panjang antar-ulama, al-Marāghī justru menekankan gaya bahasa sederhana, ringkas, dan penuh dengan sentuhan moral serta sosial.

Tafsir al-Marāghī lahir pada masa Mesir sedang berada dalam pusaran perubahan besar akibat kolonialisme dan modernisasi. Situasi ini membuat al-Marāghī terdorong menghadirkan tafsir yang mampu menjawab kebutuhan zaman. Ia menolak model tafsir yang terlalu rumit dan hanya dapat dipahami kalangan tertentu. Sebaliknya, ia ingin agar al-Qur’an benar-benar hadir sebagai kitab petunjuk hidup yang dapat dipahami semua kalangan, mulai dari pelajar, guru, hingga masyarakat umum.

Ciri khas tafsir ini begitu menonjol. Pertama, ia menggunakan bahasa Arab sederhana yang jauh dari istilah teknis yang rumit. Kedua, ia menghindari perdebatan fiqh panjang yang sering mewarnai tafsir klasik, sehingga pembaca tidak terseret dalam polemik mazhab. Ketiga, ia lebih menekankan pada nilai-nilai etika, akhlak, dan pesan sosial yang bisa langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Keempat, al-Marāghī banyak mengaitkan ayat-ayat al-Qur’an dengan persoalan kontemporer pada zamannya, mulai dari pendidikan, keadilan sosial, hingga pentingnya ilmu pengetahuan.

Karya ini juga memiliki pengaruh besar di dunia Islam. Tafsir al-Marāghī menjadi salah satu kitab rujukan utama di sekolah-sekolah Islam modern, baik di Mesir maupun di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Pesantren dan lembaga pendidikan Islam di Nusantara kerap menggunakan tafsir ini karena bahasanya mudah dipahami dan kandungannya relevan dengan realitas sosial. Bahkan, banyak dai dan guru agama menjadikannya sumber utama dalam menyampaikan ceramah serta materi pembelajaran.

Tafsir al-Marāghī membuktikan bahwa al-Qur’an dapat dihadirkan dalam bahasa yang segar dan kontekstual, tanpa kehilangan kedalaman maknanya. Inilah yang menjadikannya sebagai tafsir modern yang tetap diminati hingga kini, lebih dari tujuh dekade setelah wafatnya sang penulis. Karya ini bukan hanya sebuah tafsir, melainkan jembatan yang menghubungkan pesan ilahi dengan realitas hidup manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *