Tafsir al-Munîr Jilid I: Membuka Makna Surah al-Fâtihah hingga al-Baqarah Ayat 141
Damaskus – Kitab Tafsir al-Munîr karya ulama besar Suriah, Dr. Wahbah az-Zuhailî, memasuki jilid pertama dengan mengurai pesan-pesan suci al-Qur’an yang dimulai dari Surah al-Fâtihah hingga Surah al-Baqarah ayat 141. Jilid ini tidak hanya menampilkan tafsir dalam gaya klasik, tetapi juga membawanya ke ranah kehidupan modern, sehingga terasa relevan bagi umat Islam di seluruh dunia.
Pada bagian awal, Wahbah az-Zuhailî mengupas Surah al-Fâtihah sebagai pembukaan al-Qur’an yang sarat makna. Ia menjelaskan bahwa surah ini merupakan inti dari seluruh kandungan al-Qur’an, mencakup pujian kepada Allah, permohonan hidayah, dan pengakuan manusia akan ketergantungan total kepada Sang Pencipta. Surah ini disebut sebagai ummul kitâb (induk kitab) karena merangkum pokok ajaran Islam: akidah, ibadah, dan doa.
Memasuki penafsiran Surah al-Baqarah, Wahbah menekankan kedudukan surah ini sebagai surah terpanjang yang mengandung panduan hidup menyeluruh. Ia menjelaskan makna tentang kitab sebagai petunjuk bagi orang bertakwa, menyinggung karakter orang beriman, kafir, dan munafik, serta menekankan pentingnya keimanan sebagai dasar setiap amal.
Dalam jilid ini, Dr. Wahbah juga mengupas kisah-kisah Bani Israil, sebuah cermin sejarah bagi umat Islam. Ia menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan nikmat Allah kepada mereka, pembangkangan mereka, hingga akibat yang mereka terima. Penekanan diletakkan pada pelajaran moral: bahwa siapa pun yang berpaling dari petunjuk Allah akan terjerumus pada kesesatan dan kehinaan.
Tidak berhenti di situ, Wahbah memasukkan analisis hukum syariat yang berkaitan dengan beberapa ayat. Misalnya, ayat tentang ibadah, perintah salat, serta kewajiban syukur atas nikmat Allah. Semua itu dihubungkan dengan praktik ibadah sehari-hari umat Muslim.
Salah satu bahasan penting dalam jilid ini adalah tentang perubahan kiblat, dari Baitul Maqdis menuju Ka’bah di Makkah. Dr. Wahbah menjelaskan peristiwa ini sebagai tanda pergantian kepemimpinan spiritual umat. Ia menegaskan bahwa perubahan kiblat tidak hanya simbol ritual, tetapi juga deklarasi bahwa umat Islam memiliki identitas dan misi universal yang berbeda dari umat sebelumnya.
Jilid I ini diakhiri dengan ayat-ayat yang menekankan tanggung jawab iman individu, seperti pernyataan bahwa “setiap jiwa akan memperoleh apa yang diusahakan dan menanggung apa yang diperbuat.” Dengan ini, Wahbah az-Zuhailî menegaskan pentingnya kebebasan sekaligus tanggung jawab moral dalam Islam, sebuah pesan yang tetap aktual hingga kini.
Dengan bahasa yang lugas namun ilmiah, serta perpaduan antara tafsir, fiqh, dan konteks sosial, Tafsir al-Munîr Jilid I hadir sebagai pintu masuk menuju pemahaman mendalam atas kitab suci. Tidak heran bila karya ini menjadi salah satu tafsir modern yang paling banyak dirujuk di dunia Islam, dari ruang akademik hingga mimbar dakwah.