Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid XII: Penutup Agung dari Naungan al-Qur’an
Kairo – Jilid XII menjadi penutup megah dari karya monumental Fî Ẓilâl al-Qur’ân buah tangan Sayyid Quthb. Pada jilid terakhir ini, sang mufassir menafsirkan Surat al-Mujâdalah hingga an-Nâs, menuntun pembaca menapaki babak akhir perjalanan spiritual yang penuh dengan hikmah, peringatan, sekaligus janji kemenangan.
Quthb membuka jilid ini dengan Surat al-Mujâdalah, yang mengisahkan perempuan pejuang haknya melalui aduan kepada Rasulullah ﷺ. Ia menegaskan bahwa Islam adalah agama yang menempatkan keadilan sosial dan hak manusia pada posisi mulia, jauh sebelum dunia modern mengenal konsep hak asasi. Bagi Quthb, inilah bukti bahwa al-Qur’an adalah revolusi moral yang berpihak kepada kaum lemah.
Surat al-Hasyr hadir dengan nuansa sejarah, menyingkap peristiwa pengusiran Bani Nadhir. Quthb menggali makna politik dan sosial dari ayat-ayat ini, menekankan bahwa umat Islam harus belajar dari sejarah pengkhianatan kaum Yahudi Madinah, serta memahami bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada harta maupun benteng, melainkan pada pertolongan Allah. Ia menulis dengan tegas: “Peradaban yang menentang Allah pasti runtuh, sebagaimana bangsa-bangsa terdahulu dihancurkan.”
Dalam Surat al-Mumtahanah, tafsir Quthb memancarkan pesan toleransi sekaligus ketegasan. Ia menafsirkan bahwa Islam membuka ruang persahabatan dengan non-Muslim yang tidak memusuhi, namun tetap menuntut kewaspadaan terhadap mereka yang memerangi agama. Bagi Quthb, surat ini adalah pedoman bagi umat Islam untuk menjaga keseimbangan antara kasih sayang dan kewaspadaan politik.
Kemudian, memasuki Surat ash-Shaff hingga at-Tahrîm, Quthb menyalakan kembali semangat jihad. Ia menegaskan bahwa perjuangan di jalan Allah adalah puncak keimanan, dan seorang Muslim sejati tidak boleh lari dari medan pengorbanan. Ia menafsirkan ayat-ayat ini dengan nada membakar, seakan menyeru umat Islam modern agar bangkit menghadapi tantangan kolonialisme, sekularisme, dan tirani yang melanda dunia Islam pada abad ke-20.
Pada Surat al-Mulk, Quthb menuliskan tafsir dengan keindahan kontemplatif. Ia menggambarkan kedahsyatan kerajaan Allah di langit dan bumi, menghadirkan ayat-ayat ini sebagai pengingat bahwa seluruh alam raya tunduk di bawah kekuasaan-Nya. Tafsir bagian ini terasa lembut dan penuh ketenangan, seakan menjadi oase setelah seruan perjuangan yang keras.
Surat Yâsîn, ar-Rahmân, al-Wâqi‘ah, dan al-Mulk diuraikan Quthb dengan paduan antara retorika puitis dan renungan mendalam. Ia menekankan nilai spiritual, keindahan ciptaan Allah, dan kepastian balasan akhirat. Baginya, surat-surat ini bukan sekadar bacaan untuk tradisi, melainkan energi spiritual yang membangkitkan kekuatan iman dalam hati seorang Muslim.
Puncak jilid ini hadir ketika Quthb menafsirkan Surat al-Ikhlâsh hingga an-Nâs. Ia menggambarkan surat-surat pendek tersebut sebagai permata penutup al-Qur’an, yang menyatukan tauhid, perlindungan Allah, dan kesempurnaan risalah. Surat al-Ikhlâsh dipandangnya sebagai deklarasi tegas tentang kemurnian tauhid, sementara al-Falaq dan an-Nâs menjadi doa perlindungan dari segala keburukan yang mengintai manusia, baik yang tampak maupun tersembunyi.
Dengan berakhirnya tafsir Surat an-Nâs, Sayyid Quthb menutup karyanya dengan kesadaran mendalam bahwa perjuangan manusia tidak akan pernah selesai. Selama ada kebatilan, selama itu pula cahaya al-Qur’an harus terus dinyalakan.
Jilid XII Fî Ẓilâl al-Qur’ân bukan hanya penutup dari sebuah kitab tafsir, melainkan juga warisan spiritual dan intelektual yang abadi. Dalam setiap ayat yang ia tafsirkan, Quthb menghadirkan al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan, melainkan naungan hidup—tempat manusia beristirahat dari kegelisahan dunia, sekaligus cambuk yang menggerakkan mereka menuju perjuangan abadi.
Maka lengkaplah dua belas jilid Fî Ẓilâl al-Qur’ân, sebuah tafsir yang lahir dari pena seorang pejuang yang menulis di tengah penjara dan tekanan tirani, namun berhasil meninggalkan warisan pemikiran yang tetap hidup hingga hari ini.