Lompat ke konten

Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid XI

Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid XI: Keabadian Risalah, Kekuatan Dakwah, dan Rahasia Kehidupan

Kairo – Jilid XI dari Fî Ẓilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb kembali memperlihatkan kekuatan tafsir yang berpadu dengan retorika perjuangan. Dalam jilid ini, Quthb mengupas ayat-ayat mulai dari Surat at-Tûr hingga Surat al-Hadîd, menghadirkan rangkaian penjelasan yang meneguhkan keyakinan, menggugah kesadaran sosial, dan menghidupkan kembali semangat dakwah di tengah tantangan zaman.

Quthb memulai dengan Surat at-Tûr, yang sarat peringatan keras tentang datangnya hari kiamat. Ia menafsirkan ayat-ayatnya dengan gambaran dramatis, seakan-akan langit runtuh, gunung bergetar, dan manusia berhadapan dengan takdir finalnya. Bagi Quthb, surat ini adalah seruan bagi umat agar tidak terlena dengan kehidupan dunia, sebab azab Allah nyata dan janji-Nya tentang surga bagi orang beriman pasti ditepati.

Dalam Surat an-Najm, Quthb menyoroti aspek kemurnian risalah Nabi Muhammad ﷺ. Ia menegaskan bahwa setiap wahyu yang diterima Nabi adalah kebenaran mutlak, tanpa campur tangan hawa nafsu. Tafsir bagian ini dipenuhi dengan kekaguman Quthb pada pribadi Rasulullah, yang ia gambarkan sebagai pembawa cahaya abadi bagi seluruh umat manusia. Menurut Quthb, di balik ayat-ayat ini tersimpan pesan mendalam: ketaatan penuh kepada Rasulullah adalah jalan selamat, sedangkan penyimpangan berarti kesesatan yang nyata.

Surat al-Qamar menghadirkan kisah kaum terdahulu yang hancur akibat menentang perintah Allah. Quthb menekankan bahwa sejarah bukanlah dongeng, melainkan pelajaran hidup bagi umat sekarang. Ia menyoroti bagaimana kaum Nuh, ‘Âd, Tsamûd, hingga kaum Lûth binasa karena kesombongan mereka. Dengan nada tegas, Quthb mengingatkan bahwa setiap kezaliman, kapan pun dan di mana pun, akan berakhir dengan kebinasaan, sementara kebenaran akan tetap berdiri tegak.

Dalam Surat ar-Rahmân, gaya penulisan Quthb berubah menjadi penuh keindahan. Ia menafsirkan ayat-ayat tentang nikmat Allah dengan bahasa puitis, menggambarkan harmoni antara langit dan bumi, laut dan daratan, manusia dan jin. Repetisi ayat “Fabi ayyi âlâ’i rabbikumâ tukadzdzibân” menurutnya adalah cambuk sekaligus pelukan, mengingatkan manusia untuk bersyukur sekaligus menegur mereka yang lalai. Tafsir ini memperlihatkan sisi lembut Quthb, seorang penulis yang tidak hanya berapi-api dalam perjuangan, tetapi juga mampu melukiskan keindahan spiritual yang menenangkan jiwa.

Surat al-Wâqi‘ah memberikan penegasan tentang pembagian manusia pada hari akhir: golongan kanan, golongan kiri, dan orang-orang yang paling dahulu beriman. Quthb menafsirkan ayat ini dengan penekanan pada keadilan ilahi yang mutlak. Setiap amal manusia akan mendapatkan balasannya secara adil, tanpa terkecuali. Ia mengingatkan bahwa harta, kedudukan, dan kekuasaan dunia tidak akan berarti apa-apa kecuali amal saleh yang tulus.

Jilid ini ditutup dengan Surat al-Hadîd, yang penuh dengan nilai spiritual dan sosial. Quthb menggarisbawahi pesan utama surat ini: iman yang sejati harus melahirkan amal nyata dalam kehidupan sosial. Ia menegaskan bahwa kekuatan iman bukanlah sekadar keyakinan batin, melainkan energi yang mampu menggerakkan perubahan. Dalam pandangannya, ayat-ayat ini adalah panggilan agar umat Islam bangkit membangun peradaban, dengan menjadikan al-Qur’an sebagai pusat inspirasi.

Quthb menulis tafsir bagian ini dengan semangat membakar, seolah sedang menyeru umat Islam abad ke-20 yang terjajah, tercerai-berai, dan terperangkap dalam arus materialisme. Ia mengingatkan bahwa kejayaan Islam tidak terletak pada harta atau kekuasaan politik semata, melainkan pada kekuatan iman dan ketundukan kepada Allah.

Jilid XI Fî Ẓilâl al-Qur’ân pun menegaskan dua hal besar: bahwa risalah Islam adalah abadi sepanjang zaman, dan bahwa umat Islam tidak boleh berpuas diri dengan iman yang pasif. Mereka harus menegakkan keadilan, menyebarkan kebaikan, serta menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap langkah.

Dengan bahasa yang tegas sekaligus indah, Quthb menghadirkan tafsir ini sebagai naungan sekaligus cambuk, tempat berlindung bagi hati yang gundah dan pendorong bagi jiwa yang ingin berjuang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *