Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid IX: Pesan Moral, Dakwah Universal, dan Keteguhan Hati dalam Gelombang Kehidupan
Kairo – Jilid IX dari Fî Ẓilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb kembali menegaskan betapa al-Qur’an bukan hanya kitab suci, melainkan sumber moral, kekuatan spiritual, dan pedoman perjuangan umat. Pada jilid ini, Quthb mengulas ayat-ayat dari Surat asy-Syûrâ hingga Surat al-Jâtsiyah, menyingkap rahasia dakwah para nabi, dinamika pertarungan ideologi, serta ketenangan yang ditawarkan iman di tengah badai kehidupan.
Dalam tafsir Surat asy-Syûrâ, Quthb menekankan pentingnya musyawarah sebagai prinsip utama dalam kehidupan bermasyarakat. Bagi Quthb, konsep ini bukan sekadar tradisi politik, melainkan perintah ilahi yang harus menjadi pondasi tata kelola umat Islam. Ia mengkritik keras sistem otoriter dan diktator yang menindas rakyat, seraya menyatakan bahwa musyawarah adalah jalan menuju keadilan sosial. Penekanan pada keadilan dan kepedulian sosial inilah yang menjadikan tafsir bagian ini sangat relevan dengan persoalan modern.
Lanjut pada Surat az-Zukhruf, Quthb mengungkapkan bagaimana al-Qur’an mengecam keras kemewahan berlebihan dan kesombongan penguasa. Kisah Fir‘aun kembali diangkat sebagai contoh rezim yang hancur karena arogan dan menolak kebenaran. Di sini, Quthb memberi peringatan bahwa masyarakat yang terbuai dengan harta dan kekuasaan akan jatuh pada kehancuran spiritual, meskipun tampak megah secara lahiriah.
Surat ad-Dukhân menghadirkan gambaran hari kiamat dengan kedahsyatannya. Quthb menulis tafsir ayat-ayat ini dengan gaya penuh visualisasi, seolah pembaca sedang menyaksikan asap tebal, teriakan manusia, dan huru-hara kiamat. Namun, di balik kengerian itu, Quthb menegaskan adanya janji Allah tentang keselamatan bagi orang beriman. Tafsir ini terasa sangat emosional, menggugah kesadaran akan kefanaan hidup dunia.
Sementara itu, Surat al-Jâtsiyah membawa pembahasan yang mendalam tentang sunnatullah dalam sejarah umat manusia. Quthb menyoroti bagaimana bangsa-bangsa terdahulu runtuh bukan hanya karena lemahnya kekuatan militer, tetapi karena hilangnya nilai-nilai moral dan rusaknya iman. Ia menegaskan bahwa hukum Allah berlaku atas semua umat tanpa terkecuali, dan siapa pun yang menolak kebenaran akan menghadapi kehancuran yang sama.
Jilid IX ini memperlihatkan ciri khas Quthb yang memadukan tafsir, dakwah, dan kritik sosial-politik. Ia tidak hanya menjelaskan makna ayat, tetapi mengaitkannya dengan kondisi umat Islam pada zamannya, yang tengah bergulat melawan kolonialisme, hegemoni Barat, dan krisis moral internal. Dengan retorika tajam, ia mengingatkan bahwa al-Qur’an adalah senjata ideologis yang harus dihidupkan kembali dalam jiwa umat.
Selain kritik sosial, Quthb juga menyelipkan pesan spiritual yang menyejukkan. Ia menggambarkan betapa indahnya hidup dalam naungan al-Qur’an, di mana setiap gelombang kehidupan akan terasa ringan bila hati tertambat pada Allah. Dengan gaya bahasanya yang puitis dan penuh penghayatan, ia seakan mengajak pembaca untuk merasakan kehadiran Allah dalam setiap detik perjalanan hidup.
Jilid IX akhirnya menjadi saksi bagaimana Quthb meneguhkan prinsip bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sistem hidup yang mengatur segala aspek manusia: dari ibadah, sosial, hingga politik. Tafsirnya adalah panggilan agar umat Islam kembali berdiri tegak, percaya diri dengan identitasnya, dan tidak larut dalam arus peradaban Barat yang kering nilai spiritual.