Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid VII: Meneguhkan Identitas Umat dan Menyibak Bahaya Kesesatan Modern
Kairo – Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb pada Jilid VII semakin menunjukkan wataknya sebagai tafsir yang hidup, membumi, dan berakar pada realitas umat Islam modern. Pada bagian ini, Quthb menafsirkan lanjutan dari Surat asy-Syu‘arâ hingga Surat Yâsîn, dengan sorotan pada perjalanan dakwah para nabi, tantangan kaum musyrik, hingga identitas umat Islam yang harus tetap terjaga di tengah terpaan ideologi sekuler dan hedonisme.
Dalam menafsirkan Surat asy-Syu‘arâ, Quthb banyak menekankan pentingnya syair dan kata-kata yang membawa pesan kebenaran. Ia membandingkan para penyair yang hanya mengejar popularitas dengan Rasulullah yang membawa firman Allah yang agung. Di sinilah ia menyampaikan kritik pedas terhadap budaya modern yang sering memuja seni dan hiburan, tetapi melupakan nilai moral. Bagi Quthb, al-Qur’an adalah karya yang melampaui segala bentuk seni, karena ia hadir sebagai pedoman hidup yang menyentuh hati dan menggerakkan tindakan.
Surat an-Naml dan al-Qashash dipaparkan Quthb dengan menonjolkan kisah Nabi Sulaimân dan Nabi Musa. Kedua kisah ini menurutnya adalah simbol peradaban Islam yang tegak atas dasar tauhid dan keadilan. Ia menggambarkan kepemimpinan Nabi Sulaimân sebagai contoh kekuasaan yang tunduk pada Allah, bukan pada keserakahan dunia. Sementara kisah Musa dan Fir‘aun, ditulis dengan semangat perjuangan melawan tirani, yang oleh Quthb kerap disamakan dengan rezim otoriter modern.
Ketika memasuki Surat al-‘Ankabût, Quthb menekankan makna ujian dalam kehidupan beriman. Menurutnya, ayat-ayat awal surat ini adalah penegasan bahwa iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan perjuangan nyata yang diuji oleh penderitaan, tekanan, bahkan pengorbanan besar. Ia menyindir keras umat yang hanya beriman ketika senang, tetapi goyah ketika kesulitan datang. Dari sini, Quthb mengajak pembacanya untuk melihat bahwa ujian adalah bukti cinta Allah, dan kemenangan sejati ada pada kesabaran.
Pada Surat ar-Rûm, Quthb menyinggung tentang kekalahan dan kemenangan bangsa Romawi yang menjadi isyarat bahwa sejarah dunia berjalan dalam genggaman Allah. Ia menafsirkan peristiwa ini sebagai pengingat bagi umat Islam agar tidak silau dengan kekuatan material bangsa-bangsa modern, sebab yang menentukan hanyalah kekuasaan Allah. Dengan gaya retorika khasnya, Quthb menegaskan bahwa peradaban sekuler yang pongah pada akhirnya akan runtuh, sementara kebenaran Islam akan tegak.
Puncaknya, Jilid VII ditutup dengan penafsiran Surat Yâsîn yang oleh Quthb disebut sebagai “jantung al-Qur’an.” Ia menafsirkan surat ini dengan penuh emosional, menyoroti kisah utusan Allah yang ditolak oleh kaumnya, serta janji Allah tentang kebangkitan dan balasan akhirat. Surat ini dipandang Quthb sebagai cerminan misi Rasulullah, sekaligus seruan abadi agar manusia tidak larut dalam kesibukan dunia dan melupakan tujuan hidup yang hakiki.
Pesan besar yang ingin ditegakkan Quthb melalui Jilid VII adalah bahwa umat Islam harus memiliki identitas yang jelas, tidak hanyut dalam arus budaya modern yang menyesatkan, serta selalu siap menghadapi ujian sebagai harga dari iman. Dengan bahasa yang tegas dan penuh gairah, Quthb menjadikan tafsir ini bukan sekadar penjelasan ayat, tetapi juga seruan moral dan ideologis untuk membangkitkan kembali umat di abad modern.