Lompat ke konten

Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid V

Tafsir Fî Ẓilâl al-Qur’ân Jilid V: Revolusi Nilai, Kekuatan Tauhid, dan Penegasan Identitas Umat

Kairo – Fî Ẓilâl al-Qur’ân, mahakarya tafsir monumental karya Sayyid Quthb, memasuki Jilid V. Pada bagian ini, Quthb menafsirkan Surat Maryam hingga Surat Thâhâ, serta sebagian dari surat-surat berikutnya. Jilid ini menghadirkan al-Qur’an bukan hanya sebagai kitab petunjuk, tetapi juga sebagai manifesto peradaban yang menegaskan kembali peran umat Islam di tengah arus perubahan zaman.

Sayyid Quthb menulis tafsir ini dengan latar belakang penindasan politik dan isolasi di penjara. Oleh karena itu, tafsirnya sarat dengan nuansa perlawanan moral, spiritual, dan ideologis. Jilid ini menjadi bukti bahwa meski jasadnya dipenjara, tetapi pikirannya tetap bebas menafsirkan makna besar al-Qur’an.

Sorotan Utama dalam Jilid V

  1. Kekuatan Spiritualitas dalam Surat Maryam
    Quthb menekankan kelembutan spiritual yang mengalir dari kisah Nabi Zakaria, kelahiran Nabi Yahya, hingga kelahiran Nabi ‘Isa. Ia menegaskan bahwa mukjizat bukanlah cerita dongeng, melainkan tanda kehadiran Allah dalam sejarah manusia. Surat Maryam bagi Quthb adalah simbol kasih sayang Allah dan kekuatan doa yang mampu mengubah nasib manusia.
  2. Dialog Peradaban dalam Surat Thâhâ
    Kisah Nabi Mûsâ menjadi titik fokus yang sangat panjang dalam jilid ini. Quthb menafsirkan dialog Mûsâ dengan Allah, perlawanan kepada Fir‘aun, hingga penyelamatan Bani Israil sebagai drama universal tentang pertarungan iman melawan tirani. Menurutnya, Fir‘aun adalah representasi abadi dari penguasa zalim, sementara Mûsâ adalah simbol dakwah yang sabar, gigih, dan penuh keyakinan. Quthb bahkan menyinggung kondisi dunia modern, yang menurutnya penuh dengan “fir‘aun-fir‘aun baru” yang menindas umat dengan kediktatoran, sekularisme, dan kapitalisme. Tafsir ini bukan sekadar teks klasik, tetapi seruan aktual bagi kaum Muslim agar bangkit menegakkan tauhid.
  3. Pesan Keteguhan dan Harapan
    Ayat-ayat yang menggambarkan kemenangan kebenaran selalu dihubungkan Quthb dengan perjuangan kontemporer. Ia menegaskan bahwa kemenangan Islam bukan hanya persoalan masa lalu, tetapi janji yang akan selalu terulang selama umat berpegang teguh pada tauhid.
  4. Estetika Bahasa dan Sentuhan Jiwa
    Berbeda dengan nada kerasnya terhadap tirani, dalam menafsirkan ayat-ayat tentang kasih sayang Allah, Quthb menulis dengan bahasa yang lembut, penuh keindahan, seakan mengajak pembaca merasakan ketenangan di bawah naungan al-Qur’an.

Nada Khas Jilid V

Jilid ini menghadirkan dua wajah al-Qur’an yang saling melengkapi. Di satu sisi, ia adalah pedoman revolusi yang membongkar kezaliman, membebaskan manusia dari perbudakan sesama manusia, serta menegaskan identitas Islam sebagai kekuatan peradaban. Di sisi lain, ia juga merupakan kitab rahmah yang menenangkan jiwa, menumbuhkan harapan, dan mengajarkan kelembutan doa.

Bagi Quthb, al-Qur’an dalam Jilid V adalah naungan yang teduh sekaligus cahaya yang membakar semangat. Tafsir ini meneguhkan keyakinan bahwa Islam bukan hanya agama pribadi, melainkan juga jalan hidup yang lengkap bagi seluruh umat manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *