Tafsir al-Manâr Jilid 10: Keteguhan Iman dari Surat Yusuf hingga Ar-Ra‘d
Kairo – Jilid kesepuluh Tafsir al-Manâr berfokus pada penafsiran lanjutan Surat Yusuf hingga Surat ar-Ra‘d, dua surah yang berbeda nuansa namun sama-sama mengandung pelajaran penting tentang keteguhan iman, kesabaran, dan perjuangan membangun masyarakat.
Pada Surat Yusuf, tafsir al-Manâr menghadirkan kisah Nabi Yusuf dengan pendekatan yang lebih moral dan sosial daripada sekadar historis. Muhammad Abduh menjelaskan bahwa kisah ini adalah “kisah terbaik” (ahsan al-qashash) karena mengandung seluruh dimensi kehidupan: keluarga, cinta, fitnah, pengkhianatan, penjara, hingga kejayaan politik. Kisah ini bukan hanya narasi indah, tetapi pedoman strategi hidup bagi umat Islam.
Abduh menyoroti ketabahan Yusuf ketika menghadapi fitnah Zulaikha, ketidakadilan ketika dipenjara, hingga kebijaksanaannya ketika menjadi penguasa Mesir. Semua fase hidup Yusuf dipandang sebagai simbol perjuangan dakwah Islam: dari keterasingan hingga kejayaan. Pesan utamanya, kemenangan sejati bukanlah hasil dari tipu daya, melainkan buah kesabaran, akhlak mulia, dan tawakal kepada Allah.
Rasyid Ridha menambahkan tafsir kontekstual: Yusuf yang mampu mengelola ekonomi Mesir saat paceklik dijadikan cermin bagi umat Islam untuk membangun sistem ekonomi yang adil dan berdaulat. Ia mengkritik negara-negara Islam yang membiarkan kekayaannya dikuasai penjajah, seraya menekankan bahwa kepemimpinan sejati adalah yang mampu melindungi rakyat dari krisis dan kesenjangan.
Berlanjut ke Surat ar-Ra‘d, tafsir ini mengangkat tema keimanan, sunnatullah, dan kepastian janji Allah. Salah satu ayat yang disorot kuat adalah QS. ar-Ra‘d: 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Bagi Abduh, ayat ini adalah prinsip perubahan sosial yang abadi. Umat Islam tidak boleh hanya menunggu pertolongan Allah tanpa usaha. Perubahan sejati harus dimulai dari dalam diri: melalui pendidikan, akhlak, dan perbaikan moral masyarakat. Inilah yang menjadi dasar seruan reformasi sosial-politik al-Manâr.
Ridha mempertegas dengan menyatakan bahwa kebangkitan umat Islam akan sia-sia jika masih bergantung pada kekuatan asing. Ia menyebut kolonialisme sebagai “penjara modern” yang hanya bisa dirobohkan bila umat kembali pada ruh al-Qur’an dan berani melakukan perubahan dari dalam.
Tafsir al-Manâr jilid kesepuluh juga membahas fenomena kaum penentang dakwah. Ar-Ra‘d menggambarkan sikap orang kafir yang menuntut mukjizat spektakuler, padahal mukjizat terbesar adalah al-Qur’an itu sendiri. Abduh menekankan bahwa mukjizat al-Qur’an bukan sekadar keindahan bahasa, melainkan isi ajarannya yang membimbing akal, moral, dan peradaban manusia.
Secara keseluruhan, jilid kesepuluh menghadirkan al-Qur’an sebagai peta perjalanan hidup: Yusuf yang sabar menjadi teladan moral, sedangkan ar-Ra‘d menjadi panduan prinsip perubahan sosial. Keduanya berpadu menjadi seruan kuat agar umat Islam tidak menyerah pada keadaan, tetapi bangkit dengan iman, akhlak, dan perjuangan nyata.
Dengan narasi yang padat, jilid ini menegaskan bahwa kebangkitan umat bukanlah utopia, melainkan janji Allah bagi siapa saja yang mau berjuang menegakkan kebenaran.