Tafsir al-Manâr Jilid 9: Spirit Kehidupan dari Surat Yûnus hingga Hud
Kairo – Jilid kesembilan Tafsir al-Manâr membuka cakrawala baru dengan penafsiran Surat Yûnus, Hûd, dan sebagian Yusuf. Surah-surah ini penuh kisah para nabi dan perjuangan dakwah mereka, sehingga Abduh dan Rasyid Ridha menjadikannya sebagai ladang untuk menanamkan pesan moral, semangat dakwah, serta penguatan akidah umat.
Dalam penafsiran Surat Yûnus, Abduh menekankan konsep tauhid sebagai dasar peradaban. Baginya, umat Islam hanya akan kuat jika kembali pada pengesaan Allah yang murni, tanpa dikotori tahayul, bid‘ah, dan fanatisme buta. Kisah Nabi Yunus yang sempat meninggalkan kaumnya kemudian diselamatkan dari perut ikan menjadi pelajaran penting bahwa seorang da‘i tidak boleh berputus asa, sebab Allah selalu membuka pintu bagi hamba-Nya yang bertaubat dan kembali berjuang.
Tafsir ini juga menyoroti bagaimana umat Nabi Yunus yang mau bertaubat secara kolektif akhirnya diselamatkan dari azab. Bagi Abduh, ini adalah isyarat sosial-politik: sebuah masyarakat bisa bangkit dan selamat bila mau memperbaiki diri bersama-sama, bukan hanya bergantung pada pemimpinnya.
Berlanjut ke Surat Hûd, tafsir al-Manâr menghadirkan salah satu jilid paling emosional. Surah ini penuh kisah para nabi: Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Syuaib, hingga Musa. Abduh menafsirkan kisah-kisah ini bukan sekadar sejarah, melainkan peta perjuangan umat sepanjang zaman. Setiap nabi menghadapi tantangan yang berbeda—dari kesombongan kaum kaya, tirani penguasa, hingga dekadensi moral masyarakat—namun semuanya memiliki benang merah: seruan tauhid, keadilan, dan akhlak mulia.
Salah satu ayat yang mendapat penekanan khusus adalah QS. Hud: 112, “Maka tetaplah kamu di jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu…”. Abduh menyebut ayat ini sebagai inti dari surah Hûd, karena menekankan keteguhan iman dan konsistensi dalam perjuangan. Ia mengaitkannya dengan kondisi umat Islam modern yang goyah menghadapi kolonialisme dan modernisasi Barat, sehingga membutuhkan keteguhan dan kesabaran ekstra.
Rasyid Ridha menambahkan tafsir kontekstual dengan menyebut bahwa kelemahan umat Islam di zamannya sama persis dengan kesalahan kaum terdahulu: ketidakadilan sosial, kesombongan ekonomi, dan perpecahan internal. Karena itu, kisah kaum ‘Ad, Tsamud, dan umat Luth bukan hanya kisah masa lalu, tetapi cermin bagi dunia Islam yang sedang terpuruk.
Dalam dimensi metodologis, jilid kesembilan ini memperlihatkan ciri khas al-Manâr: menolak takwil berlebihan, mengedepankan penafsiran rasional, serta menekankan ibrah (pelajaran hidup). Kisah azab bagi umat terdahulu dijelaskan bukan sekadar mukjizat, tetapi sebagai konsekuensi logis dari penyimpangan moral dan sosial.
Jilid ini ditutup dengan sorotan pada keteladanan Nabi Muhammad ﷺ yang sabar menghadapi penentangan kaumnya. Tafsir ini seolah ingin menyampaikan pesan kepada umat Islam modern bahwa dakwah bukanlah jalan mudah, melainkan medan perjuangan panjang yang menuntut kesabaran, keteguhan, dan visi yang jelas.
Dengan demikian, jilid kesembilan al-Manâr bukan hanya membacakan kisah para nabi, melainkan membangun kesadaran sejarah dan moral umat Islam. Ia mengajak umat untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu, melainkan mengambil pelajaran darinya untuk menegakkan kembali kejayaan peradaban Islam.