Tafsir al-Manâr Jilid 7: Membangun Peradaban Qur’ani dari Surat al-A‘râf
Kairo – Jilid ketujuh Tafsir al-Manâr mengupas secara mendalam Surat al-A‘râf, salah satu surah Makkiyah yang kaya dengan kisah-kisah umat terdahulu. Surah ini sarat pelajaran moral tentang perjuangan para nabi, tantangan dakwah, serta konsekuensi bagi mereka yang menolak kebenaran. Bagi Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, penafsiran surah ini menjadi ruang untuk menegaskan kembali bahwa sejarah dalam al-Qur’an bukan sekadar cerita, melainkan cermin perjalanan umat.
Sejak awal, tafsir ini menekankan bahwa kisah para nabi—dari Nuh, Hud, Shalih, Musa, hingga Nabi Muhammad ﷺ—adalah ibrah (pelajaran hidup). Abduh menolak cara pandang tradisional yang menjadikan kisah-kisah tersebut hanya sebagai dongeng atau hiburan. Baginya, kisah al-Qur’an adalah peta moral dan strategi dakwah bagi setiap umat yang ingin bangkit dari keterpurukan.
Salah satu sorotan penting dalam jilid ini adalah tafsir tentang kisah Nabi Musa dan Fir‘aun. Abduh menafsirkan perlawanan Musa terhadap tirani Fir‘aun sebagai simbol perjuangan umat melawan penindasan. Fir‘aun, dalam tafsir ini, bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan simbol kekuasaan absolut yang menindas rakyat, sementara Musa adalah figur reformis yang membawa kebebasan dan keadilan. Tafsir ini secara halus menjadi kritik terhadap penguasa zalim di dunia Islam modern yang bersekutu dengan kolonialisme.
Pada bagian lain, tafsir al-Manâr juga membahas konsep al-A‘râf—suatu tempat antara surga dan neraka yang menjadi gambaran bagi orang-orang yang amalnya seimbang. Abduh menjelaskan ayat ini sebagai peringatan moral agar umat tidak setengah hati dalam beragama. Ia menegaskan bahwa Islam menuntut komitmen penuh, bukan sekadar identitas formal tanpa amal nyata.
Dalam ayat-ayat tentang larangan mengikuti hawa nafsu, tafsir ini menyoroti bahaya dekadensi moral dan budaya. Abduh memperingatkan umat Islam agar tidak larut dalam gaya hidup yang hanya mengejar kesenangan duniawi. Ia mengaitkannya dengan kondisi umat Islam modern yang terpesona oleh gaya hidup Barat tetapi melupakan nilai-nilai Islam yang sejati.
Rasyid Ridha, dalam penjelasan tambahan, menekankan relevansi surah ini terhadap persatuan umat Islam. Ia melihat bahwa kelemahan umat terjadi karena mereka mengulang kesalahan bangsa-bangsa terdahulu: perpecahan, fanatisme golongan, dan pengkhianatan terhadap risalah ilahi. Pesan al-A‘râf menurut Ridha adalah seruan agar umat Islam bersatu kembali di bawah panji al-Qur’an.
Secara metodologis, jilid ketujuh ini memperlihatkan gaya khas al-Manâr: kritik terhadap tradisi, penekanan pada rasionalitas, dan fokus pada relevansi sosial. Tafsir ini menjadikan al-Qur’an sebagai kitab yang tidak hanya berbicara pada abad ke-7, tetapi juga pada abad ke-20 dan seterusnya.
Banyak pengamat menilai bahwa jilid ini adalah salah satu bagian paling inspiratif dari al-Manâr. Ia memperlihatkan bagaimana kisah para nabi bisa menjadi bahan bakar spiritual sekaligus strategi peradaban. Tafsir ini mengajak umat Islam belajar dari sejarah, menghindari kesalahan masa lalu, dan berani membangun masa depan yang lebih adil, bersatu, dan bermartabat.