Lompat ke konten

Tafsir Al-Manar Jilid VI

Tafsir al-Manâr Jilid 6: Menafsirkan Tantangan Umat Lewat Surat al-An‘âm

Kairo – Jilid keenam Tafsir al-Manâr berfokus pada Surat al-An‘âm, salah satu surah Makkiyah yang kaya dengan ajaran tauhid, bantahan terhadap syirik, dan kritik terhadap praktik keagamaan jahiliyah. Surah ini menjadi medan penting bagi Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha untuk menegaskan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang rasional, kritis, dan relevan menghadapi tantangan keimanan sepanjang masa.

Dalam jilid ini, tafsir al-Manâr menyoroti dengan tajam persoalan tauhid sebagai fondasi peradaban Islam. Abduh menjelaskan bahwa keyakinan terhadap keesaan Allah tidak boleh berhenti pada aspek ritual, melainkan harus melahirkan sistem sosial yang adil, bebas dari penindasan, serta menolak segala bentuk eksploitasi. Ia menegaskan bahwa syirik, dalam bentuk apapun, termasuk ketergantungan berlebihan pada kekuatan kolonial atau tradisi buta, adalah penghalang besar bagi kemajuan umat.

Penafsiran terhadap kisah para nabi, khususnya Nabi Ibrahim, mendapat perhatian luas dalam jilid ini. Abduh menggarisbawahi perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya sebagai simbol perjuangan intelektual melawan kebodohan. Tafsir ini menampilkan Ibrahim sebagai figur rasionalis yang berani menolak penyembahan bintang, bulan, dan matahari dengan logika yang sederhana namun tajam. Pesan moralnya jelas: umat Islam pun harus berani menggunakan akal untuk melawan praktik takhayul dan tradisi yang tidak berdasar.

Dalam ayat-ayat tentang makanan halal dan haram, tafsir al-Manâr kembali menegaskan bahwa syariat Islam memiliki dasar kesehatan, kebersihan, dan kemaslahatan. Abduh mengkritik keras praktik masyarakat jahiliyah yang membuat aturan-aturan makan-minum tanpa dasar wahyu. Ia menegaskan bahwa al-Qur’an hadir untuk membebaskan manusia dari aturan tak logis, bukan untuk menambah beban.

Lebih jauh, tafsir jilid ini juga membahas fenomena penyimpangan agama dan kepemimpinan. Abduh menyoroti bahwa banyak kaum beragama kehilangan ruh spiritualitas karena terjebak dalam simbol-simbol kosong. Ia memperingatkan umat agar tidak menjadikan agama sebatas upacara tanpa substansi. Kritik ini jelas diarahkan pada kondisi dunia Islam modern, yang menurut Abduh, terlalu sering mengabaikan nilai inti ajaran Islam.

Rasyid Ridha, dalam catatan tambahan pada jilid ini, menghubungkan pesan al-An‘âm dengan tantangan kolonialisme Eropa. Ia melihat bahwa umat Islam hanya akan mampu bangkit jika kembali kepada tauhid murni, meninggalkan khurafat, dan membangun peradaban dengan ilmu pengetahuan. Ridha menegaskan, pesan tauhid dalam al-Qur’an harus diwujudkan dalam bentuk kemandirian politik, ekonomi, dan intelektual umat Islam.

Secara keseluruhan, jilid keenam al-Manâr adalah manifesto tauhid modern. Ia tidak hanya menjelaskan makna ayat, tetapi juga mengajak umat Islam berpikir kritis, menolak belenggu tradisi yang usang, dan berani menghadapi tantangan modernitas dengan iman dan akal sehat.

Tidak berlebihan jika banyak akademisi menilai bahwa penafsiran al-An‘âm dalam tafsir ini adalah salah satu puncak gagasan reformis Abduh dan Ridha. Ia menghadirkan al-Qur’an sebagai kitab yang rasional, revolusioner, dan relevan—sebuah senjata spiritual sekaligus intelektual bagi umat Islam dalam menghadapi arus globalisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *