Lompat ke konten

Tafsir Al-Manar Jilid III

Tafsir al-Manâr Jilid 3: Menyibak Makna Keluarga Ibrahim dalam Surah Âli ‘Imrân

Kairo – Tafsir al-Manâr jilid ketiga memasuki pembahasan Surat Âli ‘Imrân secara penuh, yang terdiri dari 200 ayat. Surah ini dikenal sarat dengan tema keimanan, perjuangan, dan keteladanan keluarga Ibrahim serta kisah perjuangan umat terdahulu. Dalam jilid ini, semangat reformasi Islam yang dibawa oleh Muhammad Abduh dan diteruskan Rasyid Ridha semakin terlihat kuat.

Di awal penafsiran, tafsir ini menyoroti hubungan harmonis antara tauhid, wahyu, dan akal. Abduh menekankan bahwa al-Qur’an tidak bertentangan dengan akal sehat, melainkan justru menguatkan logika manusia. Karena itu, umat Islam tidak boleh terjebak dalam taklid buta, melainkan harus terus menggali makna ayat dengan pemikiran kritis.

Salah satu sorotan penting dalam jilid ini adalah penafsiran terhadap kisah keluarga Imran, kelahiran Maryam, hingga mukjizat Nabi Isa. Abduh menjelaskan ayat-ayat ini dengan cara yang berbeda dari tafsir klasik. Ia tidak terjebak dalam kisah Israiliyat yang penuh legenda, melainkan menekankan pesan moral dan spiritual: ketulusan, pengorbanan, serta keimanan yang kokoh.

Dalam ayat-ayat tentang Perang Uhud, tafsir al-Manâr menegaskan pentingnya kesabaran, disiplin, dan kepemimpinan yang kuat. Kekalahan umat Islam pada Uhud, menurut tafsir ini, bukan karena kelemahan Islam, melainkan akibat kecerobohan sebagian kaum muslimin yang meninggalkan perintah Rasulullah. Pesan moralnya jelas: umat tidak akan maju jika mengabaikan disiplin dan persatuan.

Lebih jauh, tafsir jilid ini juga membahas dialog al-Qur’an dengan Ahli Kitab. Abduh dan Ridha mengajak umat Islam untuk memahami perbedaan agama dengan penuh hikmah, sekaligus mengingatkan agar tidak terjebak dalam fanatisme sempit. Ayat-ayat yang mengisahkan perdebatan dengan Yahudi dan Nasrani ditafsirkan sebagai ajakan kepada umat Islam untuk tetap teguh pada kebenaran, namun tetap bersikap adil dan bijaksana.

Dalam ranah sosial, jilid ini kembali menekankan pentingnya pendidikan dan persatuan umat. Rasyid Ridha menambahkan penjelasan tentang kondisi dunia Islam saat itu, yang tercerai-berai karena kolonialisme dan pertikaian internal. Baginya, pesan Âli ‘Imrân adalah seruan agar umat Islam bersatu di bawah panji tauhid dan kembali menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman peradaban.

Dengan gaya bahasa yang lugas, tafsir jilid ketiga ini tidak hanya menjadi penjelasan teks suci, tetapi juga cermin kondisi umat Islam modern. Banyak kalangan menilai, jilid ini berhasil menghadirkan al-Qur’an sebagai kitab yang berbicara langsung dengan persoalan kontemporer: dari problem iman hingga tantangan sosial-politik.

Jilid ketiga pun semakin mempertegas posisi al-Manâr sebagai tafsir yang hidup, dinamis, dan penuh energi kebangkitan. Ia bukan hanya menafsirkan ayat, tetapi juga menyulut semangat reformasi yang membuat umat Islam berani bermimpi tentang masa depan yang lebih gemilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *