Tafsir al-Manâr: Warisan Intelektual Abad Modern yang Menggugah Dunia Islam
Kairo – Tafsir al-Manâr menjadi salah satu karya tafsir monumental pada era modern yang hingga kini tetap berpengaruh dalam wacana pemikiran Islam. Kitab ini disusun oleh ulama besar Mesir, Syaikh Muhammad Abduh, lalu dilanjutkan oleh muridnya, Rasyid Ridha, setelah Abduh wafat. Berbeda dengan tafsir klasik yang kerap menekankan aspek bahasa dan hukum, al-Manâr hadir dengan semangat baru: menafsirkan al-Qur’an sesuai konteks zaman dan tantangan modernitas.
Sejak awal diterbitkan dalam majalah al-Manâr—yang juga menjadi cikal bakal namanya—tafsir ini langsung mendapat perhatian luas. Abduh menekankan bahwa al-Qur’an bukan hanya kitab suci untuk dibaca, melainkan juga pedoman hidup yang aplikatif. Pesan-pesan moral, sosial, dan politik yang terkandung dalam ayat-ayatnya diangkat untuk menjawab persoalan masyarakat Muslim yang kala itu sedang bergulat dengan kolonialisme, keterbelakangan, dan tuntutan pembaruan.
Rasyid Ridha, dengan gaya penulisan yang lugas dan kritis, memperluas cakupan tafsir ini. Ia banyak menyinggung isu-isu kontemporer, seperti pentingnya persatuan umat Islam, kebangkitan pendidikan, hingga kritik terhadap taklid buta. Tafsir al-Manâr pun dipandang sebagai corong reformisme Islam: mengajak umat agar kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman rasional serta menjauhi praktik-praktik bid‘ah yang melemahkan daya saing umat.
Dalam dunia akademik, kitab ini masuk kategori tafsir adabi ijtima‘i (sosial kemasyarakatan). Gaya penafsirannya menekankan aspek relevansi sosial al-Qur’an sehingga mampu memberi jawaban atas persoalan umat di tengah arus modernisasi. Tidak mengherankan bila al-Manâr sering disebut sebagai salah satu tafsir perintis yang menjembatani pemikiran klasik dengan semangat modern.
Kini, lebih dari seabad sejak pertama kali diterbitkan, Tafsir al-Manâr masih menjadi rujukan penting. Bukan hanya di Timur Tengah, tetapi juga di berbagai belahan dunia Islam, termasuk Indonesia. Kitab ini seakan mengingatkan bahwa pesan al-Qur’an selalu hidup, dinamis, dan siap menjawab tantangan zaman sepanjang ditafsirkan dengan semangat keilmuan dan keberanian berpikir.