Jilid Kesepuluh Tafsir al-Qurthubî: Menguak Surah al-A‘râf, Kisah Para Nabi dan Pelajaran dari Umat Terdahulu
Kairo — Jilid kesepuluh Tafsir al-Qurthubî memusatkan pembahasan pada Surah al-A‘râf, surah ke-7 dalam Al-Qur’an dengan 206 ayat. Surah ini merupakan salah satu surah Makkiyah terpanjang, sarat dengan kisah umat terdahulu, peringatan keras bagi orang yang mendustakan kebenaran, serta penegasan pentingnya mengikuti wahyu.
Imam al-Qurthubî menafsirkan Surah al-A‘râf dengan pendekatan khasnya: menekankan aspek hukum, menyelami makna akidah, sekaligus merinci kisah-kisah sejarah umat terdahulu untuk diambil sebagai pelajaran bagi umat Islam.
🔹 Pembukaan Surah: Al-Qur’an sebagai Peringatan
Surah al-A‘râf diawali dengan huruf muqaththa‘ah alif lâm mîm shâd. Imam al-Qurthubî menjelaskan berbagai pendapat ulama mengenai huruf-huruf ini, ada yang menafsirkannya sebagai rahasia Allah, ada pula yang menyebutnya sebagai isyarat keagungan Al-Qur’an.
Ayat-ayat pembuka kemudian menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab peringatan, bukan sekadar bacaan, melainkan petunjuk yang harus dipatuhi agar manusia selamat di dunia dan akhirat.
🔹 Dialog di Hari Kiamat: Ashhâb al-A‘râf
Nama surah ini diambil dari kisah Ashhâb al-A‘râf (para penghuni tempat tinggi antara surga dan neraka). Imam al-Qurthubî menafsirkan bahwa mereka adalah golongan yang amal baik dan buruknya seimbang, sehingga ditahan sementara di sebuah tempat tinggi sambil menanti keputusan Allah.
Kisah ini, menurut beliau, menjadi pengingat bahwa setiap amal sekecil apapun akan menentukan nasib akhir manusia.
🔹 Kisah Nabi Adam dan Iblis
Al-Qurthubî membahas panjang kisah penciptaan Adam, sujudnya para malaikat, serta penolakan Iblis yang menjadi awal permusuhan abadi antara manusia dan setan.
Beliau menekankan dua pelajaran utama:
- Bahaya kesombongan, sebagaimana Iblis menolak karena merasa lebih baik.
- Rahmat Allah, karena meski Adam melakukan kesalahan, ia segera bertaubat dan Allah menerimanya.
🔹 Kisah Para Nabi dan Kaumnya
Jilid ini kaya akan kisah dakwah para nabi terdahulu. Imam al-Qurthubî menafsirkan dengan rinci, menunjukkan pola dakwah yang selalu sama: mengajak kepada tauhid, memberi peringatan, lalu menghadapi penolakan dari kaum yang keras kepala.
Di antaranya:
- Nabi Nuh: seruan panjang namun hanya sedikit pengikut.
- Nabi Hûd: dakwah kepada kaum ‘Âd yang sombong dengan kekuatan fisik mereka.
- Nabi Shâlih: menghadapi kaum Tsamûd yang mendustakan mukjizat unta betina.
- Nabi Lûth: memperingatkan kaumnya dari perbuatan keji homoseksual.
- Nabi Syuaib: menyeru kaumnya agar jujur dalam timbangan dan perdagangan.
- Nabi Musa: kisah panjang perjuangannya menghadapi Fir‘aun, mukjizat tongkat, serta penyelamatan Bani Israil.
Imam al-Qurthubî menjelaskan setiap kisah dengan detail hukum, hikmah, dan pesan moral bagi umat Islam.
🔹 Larangan Mengikuti Bisikan Setan
Surah al-A‘râf menegaskan bahwa setan selalu berusaha menyesatkan manusia sebagaimana ia menyesatkan Adam dan Hawa. Imam al-Qurthubî menafsirkan bahwa musuh terbesar manusia adalah hawa nafsu yang dibisikkan setan, sehingga manusia harus memperkuat diri dengan iman dan ketaatan.
🔹 Hukum-hukum Syariat
Meski mayoritas berisi kisah, surah ini juga memuat hukum-hukum penting:
- Larangan mengikuti hawa nafsu dalam beragama.
- Perintah menutup aurat ketika salat dan thawaf.
- Larangan berlebih-lebihan dalam makanan dan minuman.
- Penegasan bahwa makanan halal dan thayyib adalah anugerah Allah.
Al-Qurthubî menjelaskan hukum-hukum ini dengan analisis fiqh yang mendalam, membandingkan pendapat ulama, lalu menyimpulkan dengan pandangan mazhab Maliki yang dianutnya.
🔹 Penutup Surah: Al-Qur’an sebagai Rahmat
Surah al-A‘râf ditutup dengan penegasan bahwa Al-Qur’an adalah rahmat dan petunjuk. Nabi diperintahkan untuk berpegang teguh pada wahyu, serta menolak mengikuti hawa nafsu orang-orang yang berpaling.
Imam al-Qurthubî menafsirkan bahwa penutup ini adalah pesan kunci bagi umat Islam, agar tidak terjebak dalam kebiasaan jahiliyah atau mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan.