Lompat ke konten

Tafsir Al-Qurthuby Jilid IX

Jilid Kesembilan Tafsir al-Qurthubî: Mengupas Surah al-An‘âm, Dari Tauhid Hingga Kritik Tajam terhadap Syirik

Kairo — Jilid kesembilan Tafsir al-Qurthubî menghadirkan penafsiran mendalam terhadap Surah al-An‘âm, surah keenam dalam Al-Qur’an yang turun di Makkah. Surah ini memiliki karakteristik Makkiyah: penuh dengan seruan tauhid, bantahan terhadap kemusyrikan, penegasan kenabian, serta penguatan akidah umat Islam di masa-masa awal dakwah Nabi Muhammad ﷺ.

Imam al-Qurthubî, dengan keahliannya dalam fiqh dan tafsir, menyingkap makna ayat demi ayat Surah al-An‘âm. Ia tidak hanya menafsirkan secara hukum, tetapi juga menampilkan dimensi teologis, filosofis, dan spiritual yang memperkuat keyakinan umat.


🔹 Ayat Pembuka: Kebesaran Allah dalam Penciptaan

Surah al-An‘âm diawali dengan pujian kepada Allah sebagai pencipta langit dan bumi. Al-Qurthubî menekankan bahwa pembukaan ini menjadi argumentasi tauhid, sekaligus bantahan terhadap keyakinan kaum musyrikin Quraisy yang menyembah berhala.

Ia menjelaskan, ciptaan Allah yang sempurna—matahari, bulan, bintang, tumbuhan, dan hewan—adalah bukti nyata keesaan-Nya. Al-Qurthubî bahkan menambahkan tafsiran filosofis, bahwa keteraturan kosmos menjadi dalil kuat atas adanya Tuhan Yang Maha Esa.


🔹 Polemik dengan Kaum Musyrikin

Banyak ayat dalam Surah al-An‘âm menyinggung argumentasi kaum musyrikin yang menolak kerasulan Muhammad ﷺ. Imam al-Qurthubî menafsirkan bagaimana Al-Qur’an membantah klaim mereka, seperti permintaan mukjizat berlebihan atau tuduhan bahwa Nabi hanyalah manusia biasa.

Menurutnya, justru karena Nabi seorang manusia biasa maka dakwahnya bisa dijadikan teladan. Jika Allah mengutus malaikat, manusia tidak akan mampu menirunya.


🔹 Isu Makanan dan Sembelihan

Meski Surah al-An‘âm adalah surah Makkiyah, ia juga memuat beberapa hukum. Salah satunya adalah larangan memakan bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih bukan atas nama Allah (QS. al-An‘âm: 145).

Imam al-Qurthubî membahas panjang lebar soal ini. Ia menghubungkannya dengan kebiasaan jahiliyah yang sering menyembelih hewan atas nama berhala. Tafsirnya menegaskan prinsip bahwa makanan bukan hanya soal jasmani, tetapi juga soal tauhid.


🔹 Dalil Tauhid melalui Fenomena Alam

Imam al-Qurthubî juga menyoroti ayat-ayat yang mengajak manusia berpikir tentang fenomena alam: pergantian siang-malam, hujan, tumbuh-tumbuhan, dan peredaran bintang. Semua ini dijadikan dalil atas keesaan Allah.

Ia menafsirkan bahwa dalil tauhid dalam Surah al-An‘âm bukan hanya bersifat dogmatis, melainkan juga rasional. Hal ini menjadikan surah ini sebagai pondasi teologi Islam yang argumentatif.


🔹 Kritik terhadap Praktik Syirik

Salah satu pembahasan panjang dalam jilid ini adalah kritik tajam Al-Qur’an terhadap praktik syirik kaum Quraisy. Mereka membuat aturan-aturan aneh terkait hewan ternak—ada yang dianggap haram dimakan, ada yang hanya boleh untuk laki-laki, ada yang khusus untuk berhala.

Imam al-Qurthubî menafsirkan praktik itu sebagai bentuk kesesatan buatan manusia, bukan ajaran agama. Ia menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak menentukan halal-haram.


🔹 Dialog Teologis: Nabi Ibrahim sebagai Teladan Tauhid

Surah al-An‘âm memuat kisah Nabi Ibrahim yang menolak penyembahan bintang, bulan, dan matahari. Imam al-Qurthubî menafsirkan bagian ini secara mendalam, menyebutnya sebagai dialog filosofis tauhid paling kuat dalam Al-Qur’an.

Ia menjelaskan bahwa kisah Nabi Ibrahim ini adalah metode dakwah yang menuntun manusia dari keraguan menuju keyakinan, dengan menggunakan logika dan perenungan alam.


🔹 Konsep Hidayah dan Kesesatan

Dalam banyak ayat, Allah menegaskan bahwa hidayah hanya datang dari-Nya. Imam al-Qurthubî menyoroti bahwa manusia diberi pilihan, tetapi Allah yang menentukan hasil akhirnya. Namun, ini bukan berarti fatalisme, melainkan penegasan bahwa manusia harus berusaha mencari kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *