🔹 Pengertian Mad Shilah terjadi pada ha’ dhamir (ه), yaitu huruf ha yang menunjukkan kepemilikan atau kata ganti orang ketiga (contoh: -هُ, -هِ). Ha’ dhamir ini akan terdengar lebih panjang ketika terletak di antara dua huruf berharakat. Untuk menghubungkannya, biasanya disertai huruf kecil wau (و) atau ya (ي) yang tertulis dalam mushaf sebagai tanda shilah. Disebut shilah (hubungan) karena bacaan ha’ dhamir ini “dihubungkan” dengan bunyi tambahan mad thabi‘i (و atau ي kecil).
🔹 Syarat Mad ShilahHa’ dhamir harus menunjukkan makna dhamir (kata ganti), bukan ha’ asli dari kata.Ha’ tersebut berada di antara dua huruf berharakat.Tidak berlaku apabila ha’ berada sebelum huruf mati atau sesudah huruf mati.
🔹 Pembagian Mad Shilah
1. Mad Shilah Qashirah (مد صلة قصرى)Disebut qashirah (pendek) karena dibaca seperti mad thabi‘i, yaitu 2 harakat.Terjadi jika ha’ dhamir diapit huruf berharakat dan setelahnya tidak ada hamzah.
Contoh: إِنَّهُ كَانَ (innahu kaana) dalam QS. An-Nisa’: 17 → ha’ pada kata “innahu” dibaca panjang 2 harakat.
2. Mad Shilah Tawilah (مد صلة كبرى) Disebut tawilah (panjang) karena bacaan ha’ dhamir dipanjangkan 4–5 harakat.Terjadi jika setelah ha’ dhamir ada hamzah.
Contoh: إِنَّهُ أَنزَلَهُ (innahu anzalahu) dalam QS. Yusuf: 2 → ha’ dhamir pada “innahu” bertemu dengan hamzah pada “anzalahu”.
🔹 Kesimpulan Mad Shilah Hanya berlaku pada ha’ dhamir yang menunjukkan kepemilikan. Panjang bacaan:Qashirah → 2 harakat (tanpa hamzah setelahnya).Tawilah → 4–5 harakat (jika setelahnya ada hamzah).Jika ha’ dhamir diapit oleh huruf mati, maka tidak berlaku mad shilah.